Skip to main content

Payung Hujan

Aku laki-laki. Dering telepon lima belas menit yang lalu memaksaku hingga ke tempat  ini, meninggalkan kasur yang hangat dan Inferno. Disaat hujan deras di luar sana membuat gravitasi di dalam kamarku lebih besar dari yang sewajarnya, klien yang menggunakan jasaku meminta bertemu untuk diskusi revisi website yang selesai kudesain beberapa waktu lalu. Dia menginginkanku menemuinya di salah satu tempat ‘ngopi’ elit yang satu cangkir kopinya minimal seharga lima kali makan di warteg dengan minuman es teh manis. Tempat dimana ketika kau menyeruput kopi mahalmu, orang-orang di luar bisa melihatmu dari balik kaca. Dan sampai sekarang, aku masih tidak paham dimana letak nilai seni mempertunjukan adegan minum kopi. Kecuali kalau kopinya masih bubuk tanpa diseduh dengan air.




Dan demi untuk layak disebut sebagai ‘manusia’,  aku menanggalkan kaus kumalku yang entah sudah berapa hari tidak kucuci. Kuganti dengan kaus hitam yang kutumpuk kemeja kotak-kotak yang kubiarkan terbuka kancingnya. Payung biru bermotif kotak terbuka lebar. Menjagaku dari basah akibat hujan yang hampir setiap hari mengguyur kota tempat tinggalku ini tanpa tahu diri. Sepatu kets ku menapaki jalanan pafing yang permukaannya mengkilat tersapu air. Hujan menjadi ‘sekolah’ yang menempaku menjadi pribadi yang ikhlas. Setidaknya ikhlas menerima bahwa ujung-ujung celana jeans ku akan segera kotor terkena air bercampur debu tebal, pasir, hingga lumpur. Jalan ini, setiap jengkalnya aku sudah hafal. Pohon kelapa di satu sisi dan perdu setinggi pinggang di sisi lain. Rangkaian pafing berwarna merah bata dengan bagian pinggir kuning. Semua sudah jadi bagian dari databse di otakku, kecuali hari ini. Sebuah objek asing yang tidak pernah ada dalam ‘peta’ muncul.

“Perempuan hujan”, aku menyebutnya.

***

Aku Perempuan. ‘Tugas negara’ membuatku absen latihan Aikido hari ini. Kudedikasikan tubuh dan pikiranku untuk hal lain. Mencari kesenenangan dengan menjerumuskan diri dalam kepanitiaan yang melelahkan setelah sekian lama. Ada sedikit rindu yang terobati. Sebuah seminar dengan 500 lebih peserta nasibnya berada di tanganku hari ini. Aku tidak begitu peduli apakah semua orang di ruangan paham dan mendapatkan manfaat dari acara yang kurancang. Aku hanya senang mengerjakan hal seperti ini. Sudah cukup otakku nyaris menguap memikirkan bagaimana caranya membuat semua berjalan sebagaimana ‘semestinya’. Pada akhirnya yang membuatku puas hanya selesainya acara ini dan memenuhi parameter keberhasilan yang kutetapkan sendiri. Kusyukuri tetes-tetes air langit yang jatuh setelah acaraku selesai. “Hujan yang pintar.” , pujiku.

Demi untuk nampak sebagai profesional. Aku menanggalkan pakaian anti matching dan sandal jepit yang selalu menjadi gaya kebanggaanku. Menggantinya dengan kaos pas badan berwarna hitam, dan blazer merah muda. Sebuah ikat pinggang coklat menjadi pelengkap gaya, hanya untuk disebut layak sebagai ‘manusia’ yang merangkap jabatan ketua panitia. Rintik-rintik hujan yang mulai menyerbu, memaksaku membuka payung hitam bermotif merah. Sepatu flat-ku tanpa ‘komando’ melangkah melewati jalanan sekitar masjid dan pinggiran danau. Air merembes dari pinggiran sepatu masuk ke bagian dalam, meningkatkan potensi kakiku untuk terserang siluman kutu air. Kaki basah menuntunku hingga jalan itu.  Yang setiap jengkalnya aku sudah hafal. Pohon kelapa di satu sisi dan perdu setinggi pinggang di sisi lain. Rangkaian pafing berwarna merah bata dengan bagian pinggir kuning. Semua sudah jadi bagian dari databse di otakku, kecuali hari ini. Sebuah objek asing yang tidak pernah ada dalam ‘peta’ muncul.

“Laki-laki hujan”, aku menyebutnya.

***

Si perempuan hujan ini, yang dari jauh kulihat mengenakan blazer merah muda. Berjalan dengan langkah angkuh dari arah seberang. Payung merah-hitam itu menutupi wajahnya. Tidak ada yang begitu istimewa darinya. Hingga kami semakin dekat dan yang dapat kulirik hanya sepatu nude-nya. Kami berjalan bersimpangan. Aku berjalan, tapi entah ada sesuatu yang menahan kakiku dan membuatnya berhenti. Secara otomatis tubuhku berbalik hanya demi entah. Hanya demi melihat si perempuan hujan dari belakang. Hanya demi melihat kakinya yang berhenti melangkah, dan badannya yang berputar balik ‘menantangku’. Demi tatapan matanya - yang tak dapat kulihat, menangkapku basah meski aku menggunakan payung, sedang melihat kearahnya. Aku malu. Rasa maluku membuat tubuhku refleks berbalik kembali dan segera melangkah ke arah yang seharusnya. Aku tersenyum geli.

***

Si Laki-laki hujan itu, kulihat langkah bersemangat, atau terburu-buru berjalan dari seberang. Dan – pasti – akan bersimpangan denganku. Sepatu kets, celana jeans biru tua, kaos dan kemeja kotak-kotak, dan payung biru dengan motif sama yang menutupi wajahnya. Tak ada yang begitu istimewa darinya. Hingga kami bersimpangan. Aku masih melangkah. Tapi entah ada sesuatu yang membuat langkahku berhenti, dah tubuhku berbalik arah. Hanya demi melihat laki-laki hujan berdiri berhadapan denganku. Demi tatapan matanya – yang tak dapat kulihat, menangkapku basah melakukan ‘balik kanan henti – gerak!’ seperti pramuka hanya untuk melihatnya. Aku malu. Rasa maluku membuatku ‘balik kanan – maju jalan!’. Aku tersenyum geli.

***

Aku dan perempuan hujan. Untuk kedua kalinya. Aku berhenti melangkah dan melihat punggungnya. Melihat dia berjalan dengan angkuh. Kali ini demi karena aku penasaran, setelah sekejap yang lalu dia menangkapku telah ‘balik kanan henti – gerak!’ hanya untuk melihat kearahnya. Sukses membuatku malu melakukan seperti dalam adegan anime Jepang. Kenapa anime Jepang? Entahlah. Untuk kali ini aku menangkapnya menghentikan langkah. Dia diam tiga detik, dan mulai menggerakkan badannya untuk berbalik berencana ‘menangkapku’ lagi. Tapi sebelum itu, aku sudah ‘balik kanan maju – jalan!” gerakan badanku membuat payung yang kupegang turut sedikit berputar. Dan jika dia sempat melihatnya, dia akan tahu aku memperhatikannya – untuk kedua kali. Aku tersenyum tersipu sambil terus berjalan. Ada semacam bahagia yang membuat kakiku begitu bersemangat berjalan. Senyumku tersungging sepanjang perjalanan.

***

Aku dan laki-laki hujan. Ada sepercik penasaran yang entah jenis apa membuatku begitu ingin berhenti dan berbalik lagi. “Oh, kau bodoh!”, ucapku pada diriku yang lain. Tapi demi meyakinkan sekejap lalu dia sempat berbalik melihat ke arahku, aku berhenti. Tiga detik aku mematung, dan saat mataku bisa menangkap sosoknya, hanya bahu si laki-laki hujan yang kulihat bergerak ke arah dia seharusnya melangkah. Dengan payung yang berputar seiring dengan gerakan bau kirinya. Pada detik itu aku tahu, untuk kedua kalinya dia juga berbalik melihat kearahkan, dan mungkin menangkapku akan berbalik melihatnya. Sukses membuatku malu. Aku begitu malu. Di saat yang sama merasa senang. Dan demi itu aku segera melangkah ke arah yang seharusnya sambil tersenyum tersipu. Ada semacam bahagia yang membuat kakiku begitu terasa angkuh berjalan. Senyumku tersungging sepanjang perjalanan.

***

“Apa kita bisa bertemu lagi?”,
kata mereka dalam hati.

-end-

14 September 2014
02.06




Catatan:

Merupakan cerpen (atau begitulah saya menyebutnya) pengembangan dari catatan kecil berjudul “Hujan Romantis”. Saya begitu senang dengan kisah itu. PR tersendiri menuangkannya menjadi kata-kata yang dalam bentuk ini pun entah bisa dicerna atau tidak. Lebih mudah untuk menceritakannya secara langsung. Sebuah kisah asli dengan bumbu imajinasi disana sini. Terimakasih untuk Ayank atas obrolan semalam yang menggelitikku untuk menulis cerita yang kita tertawakan bersama dalam versi ini.


Untuk laki-laki hujan, orang asing yang menginspirasi. Di masa mendatang, mungkin kita bisa ngopi yang satu cangkirnya seharga lima kali makan di warteg dengan minuman es teh manis itu bareng-bareng. Mari berkenalan, kemudian akan kuceritakan kisah ini, dan kita mungkin akan tertawa. Aku akan minta maaf atas imajinasiku dalam menggambarkanmu. Pada cangkir kopi yang setengah kosong, mungkin akan kuceritakan padamu kisah pangeran naga api dan musim gugur, lalu kau mengenalkanku pada dewi laut dan kincir angin. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Gear - Deuter Aircontact 50+10 SL

Sekali-kali bikin catatan yang agak berguna bagi dunia persilatan. Demi pelaksanaan hobi jalan-jalan yang lebih nyaman terkendali, akhirnya (mau gak mau) saya musti beli yang namanya carrier. Benda satu ini memang vital banget buat orang-orang yang suka lanjalan utamanya lanjalan menyusuri tanjakan. Berhubung belakangan lagi seneng naik – naik gunung lucu, saya memutuskan untuk beli carrier sendiri. Selama ini carrier modal pinjem temen yang malah seneng carrier nya dipakai. Hahahakkk... #dasarbenalu  Beberapa minggu memilih dan memilah, lihat review sana sini, Udah sampai level browsing toko outdoor yang jualan carrier yang lebih nyaman di kantong juga. Sempat nanya-nanya carrier merk dalam negeri Consina dan Cozmeed demi menyelamatkan dompet dari derita kekeringan. Cukup hati adek yang kering, Bang. #bah Dan hingga ujungnya, pada suatu minggu pilihan saya jatuh pada Deuter Aircontact 50 + 10. Bahahahhaa....  Kalau kata Dimitri, kak iim emang suka random kaya git...

Catatan Perjalanan - Gunung Lembu Purwakarta

Ini cerita sudah lama, tapi daripada cuma mengendap di folder, mumpun lagi meeting dan rada free jadi bisa gini gitu #loh  chekidot    Goes To Purwakarta Berprinsip “Pantang libur panjang tanpa lanjalan”, saya akhirnya trekking lagi, walau Cuma trekking ke gunung mini, Gunung Lembu setelah setahun gak kemana-mana karena masih proses recovery bantalan sendi lutut yang robek awal tahun 2015 lalu. Sebenernya sih belum sembuh total, tapi udah lumayan banget buat aktivitas, termasuk di banting di aikido :’ Setelah trip ke pulau sangiang oleh Udin Organizer, kali ini lanjalan lagi ke Gunung Lembu di Purwakarta. Inget banget tahun lalu udah ada rencana ke Gunung Lembu, yang bikin Udin juga trus Khalida, Ibos dan Rijal rencananya ikut pas aku masuk grup mereka langsung komen, “Itu lututnya sembuhin dulu” akhirnya dengan ngedumel saya unduru diri dari grup waktu itu. Eh ternyata trip nya gak jadi juga dan baru kesampaian awal tahun 2016. Karena jarak yang cukup...

Review Gear Hi-Tec Lima Sport WP Womens

Deripade mosi gegara presentasi project di luluh lantakkan sama bos besar yang kemarin maunya kita ngerjain A dan pas presentasi maunya B, mending saya nulis yang agak guna buat masa depan nusa dan bangsa.  Kali ini saya mau ngasih review gear naik gunung yang menemani kehidupan percintaan saya dengan alam. Soalnya udah lelah mengharapkan percintaan sama manusia #eaaaah #nasibjomblo   Jadi si benda yang akan saya review ini adalah footwear yang emang khusus buat naik gunung yang sudah beberapa kali menemani saya menyusuri lembah dan pinggiran tebing, namanya Sweety, sepatu gunung keluaran Hi-Tec woman series.      Source : hi-tec.com Asalnya saya beli ini karena mau-gak mau. Mau beli barangnya karena pada saat itu saya belum punya sepatu gunung dan kemana-mana mengandalkan sandal gunung sebagai alas kaki, tapi gak mau belinya soalnya harganya relative mahal buat budak kapitalis kaya saya. HIksss….  Setelah bertirakat dan sholat ...