Skip to main content

Catatan Perjalanan - Pura Parahyangan Bogor




Catatan perjalanan pertama di blog ini, #PotongTumpeng. Seperti judulnya, catatan perjalanan ini mengambil latar Pura Parahyangan di kaki Gunung Salak, Bogor. Keindahan yang ditampilkan dari sejumlah foto beberapa orang yang telah mengunjungi tempat itu sebelumnya, meluapkan keinginan untuk melihat rupa Pura di daerah Bogor yang dalam foto nampak seperti di Bali. 

Bos perjalanan kali ini adalah Ayank, dia pula yang memberitahu saja beberpa bulan yang lalu ada tempat di Bogor, sebuah pura yang nuansanya seperti di Bali. Acara trip ke Pura Parahyangan ini bisa dibilang agenda mendadak. Saya memutuskan join hari Jum’at sewaktu bermusik dengan Ayank di pinggir danau samping Balairung. Romantis banget gak sih?, Hanya selang sehari dan kami pergi di hari Minggu. Untuk kegiatan short trip ada baiknya tidak direncanakan terlalu lama nampaknya, karena biasanya ujungnya wacana dan gak jadi kemana-mana. 


Empat orang yang akhirnya ngebolang bersama, Ayank sebagai ketua geng, saya, Ana dan Indi. Jangan tanya hubungan kami berempat seperti apa, sungguh rumit. #tsah... Kami janjian di stasiun Pondok Cina, saya dan Ana atas nama penghematan jalan kaki dari Kutek hingga stasiun Pocin yang endingnya adalah ketinggalan kereta ke Bogor dan harus menunggu 20 menitan lagi. Hahaha... 

Kereta Jakarta – Bogor membawa kami ke stasiun yang sekarang wajahnya telah menjadi jauh lebih rapi dari sebelumnya. Start jam 9.30 dari Stasiun Bogor, kami naik angkot 02 ke BTM. Perjalanan sekitar 20 menit dengan kondisi cukup macet.  Dengan ongkos Rp.4000, kami sampai di BTM dengan sehat sentosa. Area BTM itu kondisinya mirip terminal, berhubung di dekatnya ada pasar dan jalan sedikit, pintu masuk Kebun Raya Bogor. Dari BTM, mencari angkot jurusan Ciapus, tapi tanya dulu lewat Pura atau tidak, karena tidak semua angkot lewat sana. Kami naik ngangkot jilid 2 setelah dengan susah payah mencari penjual gorengan yang penuh kolesterol itu sebagai bekal di perjalanan. Start jam 10.00 dari BTM, berhubung hanya kami berempat yang bersisa di angkot, abang angkot menawarkan untuk mengantar kami sampai depan pura. Jadi memang tidak ada angkot yang langsung sampai Pura, solusinya bisa naik kendaraan pribadi, naik ojek dari bawah, atau jalan kaki yang pasti lebih effortful. Kami ‘iya’ kan tawaran abang angkot, sambil berdiskusi mau dikasih ongkos berapa. Dengan Rp.15.000 per kepala, kami sampai di depan Pura. Berhubung abang angkotnya gesit dan lincah kaya pesut, kami hanya butuh sekitar 45 menit dari BTM sampai depan pintu masuk Pura. 

Niatan utama kami memang untuk hunting foto. Saya sama Ayank sih yang memang seneng motret. Cuman beda modal aja, Ayank modalnya DSLR, saya Kamera Digital :p wish list 2015 aja sih, itu. Untuk masuk ke Pura tidak ada biaya masuk, hanya pas keluar ada semacam uang sumbangan seikhlasnya untuk perawatan Pura, mungkin. Pas masuk, pasti akan ditanya untuk yang perempuan apa sedang haid, karena tidak boleh masuk kompleks Pura kalau sedang haid. Sarannya jujur aja, solusinya jangan datang pas lagi haid :p Di depan akan dipinjamkan selendang yang dipakai sebagai ikat pinggang. Udah bali banget lah. 

Pemandangan pertama ada gerbang pura besar, Salah satu spot foto, tapi just for photo, dan tidak boleh ‘nongkrong’ disana. Ada jalan setapak kecil di samping gerbang yang bisa dipakai untuk masuk kompleks. Pemandangan pertama ketika masuk di dalam adalah ‘cantik’, ada bagunan pura, dan pendopo di sudut lain. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan masuk lebih jauh, tempatnya dipagari, jadi tidak bisa masuk. Hanya yang sembahyang yang bisa masuk ke Pura. Endingnya hanya bisa foto dengan background Pura. Tapi lumayan untuk tempat refreshing bagi yang setiap hari melihat gedung pencakar langit. Puas berfoto dan mendapatkan beberapa jepretan, kami memutuskan untuk keluar kompleks, kaki berhenti di sebuah tandon air yang berlumut. Saya dan Ayank memburu foto makro lumut disana :p 

Sekitar sejaman kami keluar dari kompleks. Berhubung sudah setengah dua, kami menyempatkan makan bakso di depan area Pura. Bapak penjual baksonya semangat bercerita ini itu tentang Pura, kami jadi tahu kalau dulu Pura nya dibuka dan pengunjung boleh masuk sampai ke dalam. Baksonya Rp.10.000 yah, harga tempat wisata meskipun rasanya tak seberapa. Asupan gula, MSG dan kolesterol di tubuh saya sangat tinggi hari ini dengan suplai gorengan, kembang gula, dan Taro. Turunnya kami memutuskan jalan kaki. Kata bapak tukang baksonya sih gak ada satu km. Yang setelah kami hitung-hitung bisa sampai 2 km. Huftsss... Berhubung kami cewe Teknik yang seterooonggg, kami jabanin juga itu jalanan menurun. Berhubung hari juga lagi mendung, tidak panas dan tidak hujan. 

Pura Parahyangan, Bogor (c) Nur Halimah

Di jalan pulang kami me-reveal, ternyata jalur kami naik dan turun itu beda. Lebih tepatnya abang angkot yang gesit dan lincah tadi nyari jalan memotong. Harusnya angkot di stop di pertigaan yang sebelah kanannya ada Masjid Nurul Iman buat patokan. Setelah –entah-kilo meter jalan kaki kami sampai pertigaan dimana seharusnya kami turun. Awalnya ragu-ragu mau masuk masjid, soalnya kaya masjid jamaah spesifik atau masjid keluarga. Dengan malu-maluin kami bertanya apa boleh numpang solat. Ternyata boleh... #yes... Kata Ayank sama Indi sih salah satu bapak-bapak yang di depan masjid itu artis sinetron. Entah sinetron apa, berhubung saja jarang nyetel TV jadi gak paham. 

Macro (c) Nur Halimah. Bonus jalan Stasiun Pocin - Kutek
Dari pertigaan itu ada angkot bersliweran. Kami setop satu, make sure tanya dulu ke BTM atau gak. Kayanya sih, angkot di jalur itu BTM-Ciapus semua. Tapi gapapa memastikan, Siapa tahu ada angkot jurusan Ciapus – Middle Earth. #MabokHobbit. Di jalan kami ngerumpiin pipa. Iya cewe-cewe ini ngerumpiin pipa mana yang bagus, diameter pipa, sampai pengecatannya. Saya sendiri mau beli pipa buat tempat anak panah. Gak enak juga bawa-bawa anak panah bijian, tar nusuk-nusuk orang gak sengaja kan repot. 

Karena perjalanan cukup jauh, sebagai perempuan yang ‘bijak’, kami menghabiskan waktu dengan ngerumpi. Beberapa percakapan penting di perjalanan ke BTM seputar perbedaan cewe lemah dan cewe kuat. 


Iim       : Kenapa sih cewe-cewe banyak banget yang lemah, manja pulak?”
Ayank            : Iya, apa dikit,.. “aku gabisaa...” “ aku gak kuaattt...” *ngomongnya pakai gaya cewe super manja lenjeh iritating*
Iim       : Apa-apa gak bisa sendiri, musti dibantuin.
Ayank            : Dan cowo-cowo demennya sama cewe model begitu...
Iim       : Sekalinya ada cewe independent dibilangnya terlalu dominan.
Indi      : *ngorok di angkot*


Pembicaraan berlanjut hingga pengibaratan cewe lemah, cantik-cantik warna warni dan cewe strong. Cewe lemah itu ibarat ayam boiler, bersih, cakep, goyang kanan kiri tapi gak lincah, sekali tangkep langsung gampang dipotong. Kalo cewe strong tuh kaya ayam hutan. Lincah, bisa terbang, kalau mau diserang dianya malah nantangin, kukunya tajem, yang betina aja penampakannya kaya ayam jantan. 

Dari pipa, jadi mengklasifikasikan jenis cewe, hingga joke kalau mau nyantet orang musti pake sesajen ayam item yang masih virgin. Itu kata Icin sih, gimana coba bedain ayam yang virgin ama enggak. -___- 

Tak terasa kami sampai BTM, lanjut naik angkot 02 lagi ke Stasiun Bogor. Dan naik kereta. Di kereta terjadi pembully-an terhadap Indi yang tahun depan dah 25 tahun. Seperti biasa yang ditanyakan adalah masalah jodoh. Berhubung kriterianya yang dimau tuh anak agak susah, mintanya bule... Gimana coba caranya nyari bule khilaf yang mau sama Indi. Kan repot... 

Sampai di stasiun Pocin, kami lanjut jalan kaki sampai Kutek. Ojek mahal soalnya, Rp. 8.000 sekarang, mending dibeliin snack bego. Di jalan, tinggal saya, Ayank dan Ani, kami berburu foto macro di sekitaran perpusat. Ada fitur-fitur di kamera digital saya yang baru saya tahu kemarin. -___- , jadi selama ini tidak memanfaatkan aset dengan baik. Hufts.. 

Sebagai bonus, inilah resume pengeluaran untuk liburan ke Pura Parahyangan... Bisa lebih murah atau mahal tergantung transportasi dan seberapa banyak kalian jajan di jalan. 

Resume:
Ongkos kereta Pocin – Bogor, Bogor Pocin       : ± Rp. 5.000
Angkot Stasiun Bogor – BTM – ST. Bogor             : Rp. 4.000
Angkot BTM – Pura                                                : Rp. 15.000
Uang sumbangan                                           : Rp. 5.000 (bebas sih, tapi kemarin segitu)
Bakso                                                                         : Rp. 10.000
Pura – Pertigaan Masjid                                          : Rp. 0,- #yaiyalah, kan jalan kaki
Pertigaan – BTM                                                       : Rp. 6.000
Total: Rp. 45.000
Akan jadi Rp.26.000 kalau gak pakai jajan bakso dan dari pertigaan ke Pura-nya jalan kaki.

Okeee... Sekian catatan perjalanan one day trip ke Pura Parahyangan, yang lebih tepat disebut curhatan. semoga bermanfaat bagi yang membaca. Kalau gak ada yang baca, paling gak buat pengisi blog yang sudah karatan ini.

Depok, 29 Desember 2014
Iim


Comments

Popular posts from this blog

Review Gear - Deuter Aircontact 50+10 SL

Sekali-kali bikin catatan yang agak berguna bagi dunia persilatan. Demi pelaksanaan hobi jalan-jalan yang lebih nyaman terkendali, akhirnya (mau gak mau) saya musti beli yang namanya carrier. Benda satu ini memang vital banget buat orang-orang yang suka lanjalan utamanya lanjalan menyusuri tanjakan. Berhubung belakangan lagi seneng naik – naik gunung lucu, saya memutuskan untuk beli carrier sendiri. Selama ini carrier modal pinjem temen yang malah seneng carrier nya dipakai. Hahahakkk... #dasarbenalu  Beberapa minggu memilih dan memilah, lihat review sana sini, Udah sampai level browsing toko outdoor yang jualan carrier yang lebih nyaman di kantong juga. Sempat nanya-nanya carrier merk dalam negeri Consina dan Cozmeed demi menyelamatkan dompet dari derita kekeringan. Cukup hati adek yang kering, Bang. #bah Dan hingga ujungnya, pada suatu minggu pilihan saya jatuh pada Deuter Aircontact 50 + 10. Bahahahhaa....  Kalau kata Dimitri, kak iim emang suka random kaya git...

Catatan Perjalanan - Gunung Lembu Purwakarta

Ini cerita sudah lama, tapi daripada cuma mengendap di folder, mumpun lagi meeting dan rada free jadi bisa gini gitu #loh  chekidot    Goes To Purwakarta Berprinsip “Pantang libur panjang tanpa lanjalan”, saya akhirnya trekking lagi, walau Cuma trekking ke gunung mini, Gunung Lembu setelah setahun gak kemana-mana karena masih proses recovery bantalan sendi lutut yang robek awal tahun 2015 lalu. Sebenernya sih belum sembuh total, tapi udah lumayan banget buat aktivitas, termasuk di banting di aikido :’ Setelah trip ke pulau sangiang oleh Udin Organizer, kali ini lanjalan lagi ke Gunung Lembu di Purwakarta. Inget banget tahun lalu udah ada rencana ke Gunung Lembu, yang bikin Udin juga trus Khalida, Ibos dan Rijal rencananya ikut pas aku masuk grup mereka langsung komen, “Itu lututnya sembuhin dulu” akhirnya dengan ngedumel saya unduru diri dari grup waktu itu. Eh ternyata trip nya gak jadi juga dan baru kesampaian awal tahun 2016. Karena jarak yang cukup...

Review Gear Hi-Tec Lima Sport WP Womens

Deripade mosi gegara presentasi project di luluh lantakkan sama bos besar yang kemarin maunya kita ngerjain A dan pas presentasi maunya B, mending saya nulis yang agak guna buat masa depan nusa dan bangsa.  Kali ini saya mau ngasih review gear naik gunung yang menemani kehidupan percintaan saya dengan alam. Soalnya udah lelah mengharapkan percintaan sama manusia #eaaaah #nasibjomblo   Jadi si benda yang akan saya review ini adalah footwear yang emang khusus buat naik gunung yang sudah beberapa kali menemani saya menyusuri lembah dan pinggiran tebing, namanya Sweety, sepatu gunung keluaran Hi-Tec woman series.      Source : hi-tec.com Asalnya saya beli ini karena mau-gak mau. Mau beli barangnya karena pada saat itu saya belum punya sepatu gunung dan kemana-mana mengandalkan sandal gunung sebagai alas kaki, tapi gak mau belinya soalnya harganya relative mahal buat budak kapitalis kaya saya. HIksss….  Setelah bertirakat dan sholat ...