Skip to main content

Catatan Perjalanan - Pulau Sangiang (Part II)



Badai Pasti Berlalu
Usai memasang tenda dan flysheet, dari tampangnya sudah kelihatan kami semua kelelahan. Saya sempat mengambil beberapa foto, lalu mencari pohon teduh buat ngaso yang selanjutnya dialihfungsikan sebagai tempat tidur siang. Ada yang tidur di atas mastras di pasir, ada yang tidur diatas kayu sekitar pohon teduh. Hampir jam 3 saya terbangun dan mencari Galih, anaknya sedang mandi ternyata. Usai mandi dan leha-leha kami berburu sunset walau tidak seperti yang diharapkan. Langitnya cukup gelap dan tidak ada tanda-tanda sunsetnya bakal bagus. Jatohnya main di pantai sambil hunting foto. Main sepuasnya di pasir warna putih yang sangat lembut. Pas dekat tebing tiba-tiba Chemi minta saya duduk di atas karang, dan walaaaa...  jadilah sebuah foto instagramable karya Chemi. Mayan buat dp whatsapp. Ini manfaatnya kalau punya temen jago motret, Makannya kalau nyari trip saya seneng kalau ada cheminya. Hasil fotonya pasti bagus :p Papandayan dan kali ini Sangiang jadi buktinya.

 
Model of the day : bobo di hammock

Belum habis matahari ditelan cakrawala, rintik hujan mulai membasahi pasir pantai. Waktunya kembali ke tenda, awalnya kami masih tenang-tenang saja. Hingga bencana itupun datang. Hujan badai angin kencang. Tenda paling besar kena angin jadi harus dipindah, Udin, Chemi dan Kak Rahman sebagai expert masalah camping yang berjaga di luar. Riuh di luar terdengar, tali flysheet putus, dan segala macamnya. Kasihan sih Udin, dia anaknya gak bisa kena air. Katanya sewaktu di Merbabu hujan lebat juga dan ujungnya malah sakit di atas gunung. Saya yang mau keluar tenda malah dilarang. Itu hujannya maksimal sih, tenda hijau sampai merembes, sedangkan air mulai menggenang di sekitar tenda saya dan Galih. Kesal dengan semua yang tidak bisa saya lakukan, berbekal jas hujan saya mengendap keluar tenda membuat parit di sekitar tenda saya dan galih, menyelamatkan logistik, lalu tenda sebelah. Untungnya badainya gak terlalu lama walau nasib tiga lelaki penjinak badai itu pasti sudah puas sama basah dan hujan. Karena badai pasti berlalu.

 
Memotret Senja (Model: Fotografer Saya) 
 Jam 7 an akhirnya kami bisa keluar tenda memasak makan malam. Berbekal beras, mie instan, sosis dan nugget mahal sebagai menu makan malam kami. Itu sudah mewah untuk sebuah makan malam ala camping. Untung bagi kami  membawa tiga kompor, dan dua set nesting. Memerawani nesting sama kompor bayuu akyuuu di sangiang J. Udin jadi PJ mie instan, Chemi jadi PJ nasi, Iim jadi PJ goreng nugget dan sosis mahal. Iya, mahal soalnya belinya di PIM, kata Chemi yang paling deket -___- para lelaki ketawa ngeliat ukuran sosis yang cukup besar, entah apa yang ada di pikiran mereka. Celetukan, 

“Duh plastiknya susah dirobek”
“Plastiknya ketat ya?”
“Sosisnya gede banget sih”
“Trus dipotong-potong lagi”

Sepenggalan obrolan mutu antara kami. Akhirnya peyut kenyang. Karena gak mau repot, jadi nyuci alat masaknya di laut, hahaha. Tapi kami gak ninggalin sampah kok, aturannya tissue, plastik, semua gak boleh ada yang masuk laut. Habis  beresin peralatan logistik yang semuanya ditaroh di tenda cewe #huft, kami bikin sesi curhat. Saya yang kebasahan akibat badai cuma ikut di awal lalu izin ganti celana sambil beresin tenda biar layak buat ditidurin. Taroh semua carrier dan logistik di sisi kiri tenda. Usai sesi curhat kami gantian wudhu. Kloter pertama lima orang, kloter dua saya, Galih, Udin dan Chemi. Pas mau wudhu di tempat Pak RT kami sempat menemukan kelomang segede bola kasti, dan kelabang, lagi mikir kelomang bisa dibakar gak ya. 

Usai salat jama’ah, gak perlu lama-lama kami mulai meringkel di tenda jatah masing-masing. Suasananya sangat gelap dan sangat sepi. Hanya kami yang camping dan tentu saja tidak ada penerangan. Tapi itulah seninya. Itulah saat dimana manusia kembali pada lingkungan alaminya, gelap, tenang, damai. Malam semakin larut, tapi semakin panas. Di tenda saya tidur dengan, Galih dan Udin. Awalnya saya masih lengkap berbaju dengan jilbab, tapi mulai malam dan saking panasnya akhirnya saya dan Galih pun lepas jilbab. Hahaha... Untung suasana sangat gelap dan Udin tidur dengan lelapnya. Astagfirulloh ukhtiii... Itu kalau di tenda gak ada udin, udah buka baju paling saya.

Pukul empat, seseorang menggoyang-goyang kaki saya, ternyata Chemi yang membangunkan saya mengajak untuk berburu sunrise. Dengan muka bantal, saya siap-siap. Galih sebenarnya ingin ikut tapi dia takut kalau sandalnya tidak kompatibel untuk berburu sunrise. Dan benar saja, pilihan yang bijaksana. Karena apa yang kami lewati dalam prosesi memuaskan hasrat akan matahari terbit tidak akan bisa dilalui dengan sandal jepit biasa. 

Saya keluar tenda dan disambut oleh bintang – bintang dan suara ombak yang khas, di arah timur bulan sabit berdamai dengan konstelasi. Sama-sama indah, tapi tidak saling bersaing. Kami berjalan menyusuri pantai ke arah timur, rombongan pemburu fajar, Chemi, Kak Rahman, Mas Danang, Dedek dan saya. Prediksi kami, sunrise akan bisa dilihat dari atas tebing. Yang menjadi masalah adalah kami belum tahu jalur menuju tebing yang bisa dilewati. Kami berjalan hingga sampai ke tebing setinggi sekitar 20 meter. Dan hal pertama yang terpikirkan adalah – memanjatnya. 


Chemi dan Kak Rahman berada di garis depan, tebingnya cukup curam dengan kemiringan sekitar 75 derajat. Hanya bermodal berpegangan dengan batu dan rumput kering. Katanya sih ini persiapan naik Sindoro, tapi saya bilang lebih cocok disebut persiapan naik tebing citatah. Tiga kali berganti jalur dan mentok karena semak di atas tebing terlalu padat dan tidak bisa dibuka dengan tangan kosong. Pada jalur ketiga dengan semak yang tidak terlalu padat, kami akhirnya memutuskan solusi yang paling bisa dilakukan ‘adu otot’ dengan semak-semak. Membuka jalur dengan tangan kosong. Biarlah para pria bergumul dengan semak-semak. Hahaha Itu tebing kalau siang, saya gak bakal mau manjat. 

Setelah membuka semak kami menemukan jalur tanah yang lebih bersahabat untuk dilewati, meski membuat sandal gunung kami menjelma menjadi high heels akibat tanah basah usai hujan kemarin sore menempel di sol, dan terus meninggi saat kami makin jauh berjalan. 

Dini hari dengan penerangan minimal, rombongan pecanju fajar berjalan melewati pepohonan atas dasar instict. Dan ketika kami mendengar suara ombak, kami tahu kami sudah berada di jalur yang benar. Then we find that paradise. Kami sampai di tebing tempat kami bisa melihat pantai di bawah sana, bahkan melihat tenda kami dari kejauhan. Kami tidak mendapatkan sunrise, tapi pemandangan dari atas tebing tidak lebih buruk. Laut dengan gradasi biru di bawah, pantai pasir putih dan suara ombak yang khas. Semua bergerak mengambil kamera masing-masing. Saya mulai memotret, begitu juga dengan yang lain. Pemandangan dari atas memang sangat indah. Ketika kami ‘selesai’ dengan urusan foto, kami hanya diam dan menikmati pemandangan. Melihat tenda di kejauhan, tebing karang di ujung yang lain, juga laut. Kami menemukan tempat ‘ngaso’ paling maksimal. Sampai ada yang bilang, “Bisa gak ini dibawa ke kantor aja pemandangannya”. Lalu kami melucu seandainya kantor kami disana, dan yang jadi alasan telat ngantor bukan macet, tapi badai laut. 

 
Pemandangan Tebing Sangiang (Aslinya lebih bagus, gegara kamera jelek aja nih)


Setelah puas memotret, kami hanya duduk sambil memandangi laut di kejauhan. Membuat kami ‘mager’ melakukan apapun. Bahkan mager untuk turun. Aku hanya memeluk sebuah karang dan meletakkan kepalaku disana, sambil memandang pantai landai di barat. 

Setiap perjalanan yang dimulai, akan diakhiri. Kami turun melewati tanah yang cukup landai, berhenti di beberapa spot untuk memotret, dan ketika kami berjalan kembali mencoba mencari jalur yang lebih manusiawi. Benar saja, naik ke tebing dengan panjat tebing itu tidak diperlukan. Ada jalur landai yang bisa tembus di bagian pantai yang landai. Hal terbodoh kedua yang saya lakukan selain makan indomie tanpa mencampurnya dengan bumbu pas habis jogging sama anak Papandayan. Tapi sudahlah, minimal sudah latihan buat manjat tebing Citatah #ngawur.

 
Rombongan Pecandu Fajar  
 Kami masih sempat menyusuri sepanjang pantai untuk memotret tebing. Dan menikmati ombak. Lalu kembali ke tenda dengan bau-bau sesuatu digoreng. Udin dan Galih menyiapkan makanan, Dengan rasa bersalah, saya dan chemi ikut membantu. Sebagai nasi expertise, chemi langsung mengambil alih masak nasi, saya membantu menggoreng sosis dan bikin air panas buat ngopi para

Setelah selesai makan dengan menu termewah yang bisa disajikan, nasi, nugget, sosis, dan mie instan mahal (harganya dua kali lipat mie instan yang dijual di warkop) yang menurut penuturan Galih butuh perjuangan keras menjarah hutan dan melewati rintangan untuk membelinya. Kami mulai berberes tenda, saya sendiri karena rasa lengket di badan selepas sunrise hunting yang penuh drama itu mengharuskian diri sendiri untuk mandi. Mewah sekali camping dan masih bisa mandi. Di bilik sebelah sudah ada Mas Danang dan saya hanya menginformasikan kalau saya mau mandi di bilik sebelah nya dia, bukan apa-apa, hanya sebagai peringatan kalau dia berani coba ngintip, saya masih bawa pisau kerambit di dalam carrier yang belum pernah ngisep darah orang #emangnyamuk

Habis mandi waktunya isi air, Yes, kalau igin mandi kami harus menimba sumur gali dengan menggunakan timba katrol. Jadi ingat pelajaran fisika waktu SMP tentang pesawat sederhana. Inget juga di rumah Madiun masih ada sumur timba walau sudah dipasang pompa air yang sedotannya kuat semburannya kenceng. 

Usai mandi, setidaknya menaikan grading saya menjadi selevel homo sapiens. Sebelumnya saking kucelnya lebih mirip Pithecanthropus Erectus langsung kembali ke tenda. Anak-anak yang lain sudah mulai beberes tenda masing-masing. RP saya lebih banyak karena tenda saya isinya logistic yang juga harus dibereskan. Dengan brutal tenang, saya menggulung sleeping bag, menata pakaian dan mengemas semua dalam carrier Arcteryx 60 liter yang kalau dipakai membuat badan saya yang mungil ini tenggelam dalam carrier. Saya curiga badan saya kalau ditekuk bisa masuk carrier 80 liter. 

Saya lempar-lempar alat masak ke luar tenda, nesting, kompor, kulkas, TV, untuk sama-sama dibereskan, saya mengambil nesting dan kompor, Chemi juga didaulat membawa nesting kompor, karena kondisi perkakas kami masih sama bagus, pas Chemi nanya “Punya lo yang mana, Im”, langsung saya jawab, “Yang paling baru”. Berbeda halnya dengan kompor Udin yang kondisinya mati segan hidup tak mau. Kalau mau dinyalain harus dibakar disulut dulu. 

Untung sekarang udah cekatan packingnya, meski ternyata setelah rapid an saya memakai topi jerami, masih ada satu celana jeans basah tertinggal sisa badai kemarin malam. Shhhhhtttt…. Terpaksa bongkar lagi nesting kompor dan memaksa selembar celana yang jadi berat itu masuk ke carrier. Yang lain nampaknya juga sudah mulai siap. Dipandu seorang warga local, kami akan memulai trekking ke goa kelelawar tanpa air minum. Lebih tepatnya kami kehabisan air tawar dan harus menahan sengsara selama trekking hingga kembali ke dermaga. 

Pukul 11 siang, dengan membawa semua perkakas kami dan sampah selama camping, kami berjalan kea rah tebing, dan masuk ke dalam hutan, disana kami menitipkan barang si salah satu rumah warga. Dedek yang nampaknya sedari tari menahan hasrat menanyakan toilet dan dijawab tidak ada. Untung dia cowo, dan untung saya belum kebelet. 

Perjalanan trekking ke goa kelelawar lebih bersahabat, meskipun tidak dengan nyamuknya. Mereka liar, belum diajarin salaman sama tamu. Saya yang kepanasan menyampirkan handuk kecil diatas topi jerami kebanggan demi eksistensi dan tujuan fotografi. Jalur landau dan beberapa spot  naik turun, saya sempat membahas rencana saya dan Chemii untuk naik Sindoro-Prau akhir bulan ini yang nampaknya perlu dievaluasi. 

Sekitar 20 menit kami akhirnya mendengar suara ombak di tengah hutan.. Yup, goa kelelawar yang dimaksud adalah sebongkah dinding karang yang terkikis dan membentuk lubang karena air laur. Istimewanya air laut yang masuk masih bebnetuk ombak. Jadilah nuansa unik ada ombak di tengah hutan. Yang lebih luar biasa adalah aroma parfum alami dari hasil sekresi kelelawar di goa. Hampir semua dari kami menutup hidung dengan handuk, buff, dan yang tidak membawa perkakas, cukup menutup hidung sambil berdoa agar tidak mati keracunan tai kelelawar. 

Yang seru dari dalam air merangkak seonggok hewan melata sebesar betis saya berwarna hitam dan berekor panjang. Miniatur komodo di pulau Sangiang. Biawak berukuran sedang itu sedang berjalan rileks menaiki tebing. Saya sempat mengambil fotonya. Sayang karena pertemuan kami yang begitu singkat, kami tidak sempat melakukan selfie. 

Guide kami mengatakan di air dalam goa ada ikan hiu yang tinggal, pernyataannya dibenarkan oleh Chemi yang melihat dengan mata batinnya. Karena hanya dia yang mengaku melihat sosok hiu. Dengan alasan sudah puas, atau tidak kuat dengan (dengan bau tai kelelawar) kami meninggalkan goa, dan dituntun untuk menikmati pemandangan dari tebing. Yang ternyata spotnya sudah kami jelajahi tadi pagi. Hahaha… Sudahlah, mengurangi hasrat kami untuk mengambil foto. Giliran yang belum naik, mulai memotret sana sini. Kami kembali melewati jalur memutar, hingga jalur yang mirip hutan mati di Gunung Papandayan. Uding kembali bilang, 

“Ini, Im buat persiapan naik Sindoro”
“Udeh din tadi pagi persiapan naik tebing Citatah”

Di perjalanan trekking kedua di hari ini pula saya baru menemukan fitur foto panorama di kamera HP saya yang sudah menemani perjalanan hidup saya selama sekitar lima bulan. Cerdas memang. 

Jalur kembali menuntun kami ke rumah warga yang jadi tempat penitipan carrier dan barang-barang. Sepanjang perjalanan, kami yang memang sejak sarapan tidak lagi minum air mulai meracau berhalusinasi. Es buah, kelapa muda, es jeruk mulai keluar dari mulut kami. Belum aja ini keluar kata “kambing guling, domba maroko, kaviar”

Saya mendapat bonus baret di kaki karena terkena akar pohon yang terlentang rileks di tengah trek, sedangkan jari saya dapat hadiah ketusuk ranting berduri yang nancep trus ngerobek lucu. 

Dengan menggendong carrier masing-masing kecuali dedek yang Cuma membawa tas ukuran 3 liter yang isinya kayanya Cuma celana dalem, kita balik ke pelabuhan. Ngaso di balai-balai dan Udin menepati janjinya dengan memesankan kelapa muda yang harganya 6000, karena masih kehausan saya nitip galih beli big cola yang ternyata harganya lebih mahal dari kelapa muda, 7000. Baru ingat untuk menjaga ketersediaan supply big cola di pulau ini perlu biaya logistic yang cukup mahal. Secara impor dari Jawa diangkut perahu. 

 
Lorong mangrove



Setelah rehat dan salat, kami naik kapal untuk kembali ke Anyer. Karena tidak dapat tempat, saya duduk di tengah kapal selonjoran menghadap depan kapal. Dan ketika mas Danang yang memiliki ukuran badan paling esar diantara kami semua naik, kapal langsung jadi gak seimbang. Dahsyat memang Mas Danang ini.
Setelah pw di atas kapal, Nahkoda pun menyalakan mesin kapalnya. Bau asap hasil pembakaran solar berpadu dengan hutan mangrove di sekeliling dermaga. Posisi dermaga ini ada di perairan yang menyerupai bentuk bantal leher. Dari laut lepas, kapal akan melewati perairan yang cukup sempit dikelilingi hutan bakau dengan jalur berkelok, kemudian memasuki perairan terbuka yang dari penampakannya nampak seperti danau karena dikelilingi mangrove. 

Saya dengan topi yang menutupi dari terik matahari berusaha nyaman dengan posisi yang hanya setengah badan tertutup atap perahu. Awalnya air melaju dengan tenang, saya sempat mengambil beberapa gambar ketika kapal melewati hutan mangrove, kalau orang bilang eksotik. Kalau miyabi bilang, erotik.
Awalnya semua berjalan dengan santai, kapal melaju dengan tenang, bahkan saya sempat memejamkan mata sambil ngayal bisa gak bawa pemandangan di pulau ke kantor. 

Tapi rasa tenang dan kedamaian tidak berlangsung lama, air laut yang awalnya tenang dengan perlahan mulai beriak. Yang awalnya santai jadi mulai gak nyantai. Beberapa kali air menciprati badan kapal (dan penumpangnya), mas danang yang posisinya di kanan kapal dan arah ombak dari samudera hindia menjadikannya sasaran empuk. Mulailah dia ngomel-ngomel karena basah. 

Yang awalnya air dan goyangan kapal jadi bahan becandaan, lama-lama kami gak bisa becanda lagi. Makin ke tengah laut ombak semakin besar, kapal yang awalnya hanya terombang-ambing lucu, kini mulai gak lucu. Utamanya bagi saya yang kebetulan punya skill nol dalam hal renang. Air yang semua hanya terciprat selanjutnya jadi mengguyur tolong ini dicatet. Mengguyur, bukan nyiprat lagi. Saya yang awalnya takut kenapa-kenapa mulai pasrah. Dan ketika Galih menawari untuk memegang pelampung, saya ngikut, pelampung kudekap erat, maklum, biasanya gak ada yang didekap #loh. Hahaha. 

Mas galih yang sedari awal selalu menjadi korban cipratan hingga guyuran air laut, bilang mau pindah tempat. Saya lah yang pertama ngomel, “Mas Danang jangan, nanti perahunya gak seimbang” berhubung berpindahnya seorang Mas Danang, pasti akan berpengaruh besar pada keseimbangan kapal. Secara kontribusinya dalam menambah berat muatan diperkirakan sekitar 10% dari berat penumpang.
Perahu motor kecil itu dihantam ombak kanan kiri, menyebabkan perahu hampir oleng. Anak-anak yang awalnya tertawa pada kicep, paling-paling bersorak saat ada ombak besar datang – itu pun pasti untuk mengurangi ketegangan. 

Hingga adayang menyeletuk,
“Kok gak sampai-sampai ya” 

Perjalanan yang hanya sekitar satu jam itu menjadi perjalanan seumur hidup. Di satu titik, saya hampir mengirimkan pesan singkat kepada ibu saya, “Ibu tolong kalau dalam 30 menit aku gak sms lagi, tolong lapor polisi, bilang ada yang tenggelem di selat sunda” tapi karena dikalahkan oleh rasa tengsin, saya urungkan niat. 

Dari sekian penumpang yang wajahnya panik atau sok dibikin tenang. Ada satu makhluk yang dengan santainya bisa tidur ketika ombak besar menghantam perahu menggoyangperahu kiri kanan dan mengguyur penumpangnya dengan air asin. Ialah Chemi. Makhluk satu ini memang terkenal bisa tidur bahkan ketika mengendarai motor, tapi disaat ombak yang seperti ini, saya gak tahu musti komentar apa lagi. Usai perjalanan, Chemi ngaku lah kalau dia santai karena sebelumnya pernah mengalami yang jauh lebih parah waktu di Bangka. Ah sudahlah... hidup lo emang pelik, chem. 

Sampai anyer, dua orang paling basah ,... (dalam artian yang sebenarnya), saya dan mas Danang. Celana saya basah sampe dalem-dalemnya. Terpaksa saya ganti celana di rumah pemilik kapal. Untung celana cargo kemarin sudah kering. Paling tidak gak jadi masuk angin. 

Usai pamitan dengan pemilik kapal, kami diantar angkot menuju perempatan Cilegon untuk menunggu bis Merak – Kampung Rambutan. Sepanjang perjalanan, saya hanya banyak diam. Itu pertanda saya udah capek. Yang lain masih ngobrol, kebanyakan tentang perusahaan yang pabriknya kami temui sepanjangperjalanan. Sampai di perempatan, guna mengisi kembali energi yang telah terkuras, kami memutuskan untuk makan di warkop, awalnya mikirnya Cuma nyediain indomie, ternyata ada juga nasi dengan lauk khas jawa timur. Melihat makanan itu, saya seperti melihat ibu yang jual tubuhnya disinari cahaya lalu beberapa cupid sebesar bola kasti beterbangan disekelilingnya. 

Saya memesan nasi, pepes petai cina, kangkung, telur bebek, dan sambal. Porsi yang diberikan sebenarnya banyak, tapi dengan alibi belum makan siang, tetap saja itu makanan habis saya lahap. Dan ketika membayar ibu penjualnya bilang harganya 10 ribu. Antara seneng dan bingung (kenapa bisa semurah itu), tapi karena tidak mau si ibu penjual nasinya berubah pikiran dan menaikkan harga jual produknya lima kali lipat, saya segera bayar. Tak lupa menumpang pipis yang sudah ditahan dari tadi. Deripade kebelet pas naik primajasa, kan gak lucu, Cuma bikin malu kalau tetiba minta keneknya nurunin penumpang buat pipis. 

Beruntungnya,tak lama setelah keluar dari warkop, ada bis primajasa yang lewat. Sebelumnya, sempat beberapa kali ada pria yang datang untuk menggoda menawari Udin menggunakan jasa mereka. Eh, maksudnya jasa transportasi mereka. Tapi Udin tidak bisa digoda pria, dia masih lelaki normal. 

Singkat cerita kami sudah berada dalam bis, karena bagasi penuh, beberapa carrier harus dinaikkan ke atas bis. As expected, para pria sedemikian meminta saya membiarkan carrier saya dibawa. Nom nom nom.... Tuhkan anak backparker itu pada sweet dengan cara mereka sendiri. They wouldnt bring you a bouquest of roses, or treat you expensive food that will just become a poop. They treat you their power, and they’ll bring you to see beautiful places that you wouldnt forget. 

Saya duduk dengan udin dan seorang penumpang lain, yang lain mencar duduknya. Karena lelah saya tidur selama perjalanan. Jangankan Cilegon – Rambutan, Pondok Pinang – Margonda saya bisa tidur nyenyak. Beda dengan Ibos yang ngakunya gak bisa tidur selama perjalanan. Meski ketika pulang dari perjalanan saya mendapati dia tepar juga tidur dengan ekspresi yang kalau difoto akan menjadi dosa seumur hidup dari yang bersangkutan. 

Setengah 9 an kami sampai di kampung rambutan. Saya mencari-cari carrier, dan tidak mendapatinya. Sudah panik dan bingung, kalau sampai gak ketemu mampus. Gimana ngejar bis primajasa yang sudah melenggang kangkung usai menurunkan kami serombongan dan penumpang lain. 

Waktu panik dan hampir nangis (biar kelihatan kaya cewe gitu), ternyata carrier terhormat ada di belakang galih. Huftss... setelah bersalaman dan berjanji akan nge trip lagi (sebagai bentuk basa basi) ya tapi kalau ada kesempatan lagi sih gamasalah. Saya, Galih, Cipta dan Kak Ari balik via angkot 19. Kebetulan di angkot ada seniman jalanan, remaja usia sekitar SMA yang ngamen dengan nyanyi tanpa alat musik, biar keren mari kita sebut acapella. Menyanyikan lagu yang disinyalir karyanya sendiri berjudul baper. Ulasan secara umum, materi lagu agak unik menjurus aneh, dan ditambah suara yang bersangkutan tidak membantu membuat lagu lebih enak didengar. Saya dan Galih hanya bisa geleng kepala sambil pengen maki-maki, istigfar. 

Sampai kober, saya dan galih memisahkan diri. Saya akhirnya makan (lagi) bakso citra, walau karena lelah jadi kenikmatannya jadi berkurang. Tapi biarlah,... namanya juga lapar. Nasi sama abon pun enak asal makannya sama abang. 

Jam 9 saya sampai kostan Sa’adah tercinta dan mulai membongkar carrier seperlunya. Memisahkan mana yang perlu di laundry dan dicuci sendiri. Biasanya sih nyuci sendiri, tapi karena habis nge trip, jadi saya serahkan sepenuhnya pada laundry keoercayaan di dekat kostan. Namanya laundry cinta. Tapi hingga kini saya belum pernah menemukan cinta di sekitaran laundry itu. #halah

Saya harus tidur, besok harus kerja dan berangkat pagi... Coba masih libur. Tapi tak apa. Saya pribadi punya preferensi yang berbeda dengan rata-rata teman di kostan. Mereka anak mall, lebih senang menghabiskan hari libur ke mall untuk makan. Saya kebalikan, di mall saya akan mencari opsi makanan paling murah biar uangnya bisa saving buat traveling ala backpacker. 

Okaiii.. demikian catatan perjalanan ke pulau sangiang, semoga bisa memberikan cerita traveling lagi di lain kesempatan. Doanya sih tahun depan bisa muncak Semeru, amin.

Bisnis, Pertemanan, dan Makan
Minggu itu, khirnya menggenapi empat minggu berturut-turut berjumpa dengan Chemi, diawali dengan pertemuan membahas bisnis bikin pabrik terasi udang, kemudian nonton bareng Ibos, trip ke pulau Sangiang, dan beberapa hari yang lalu meeting lagi di Slim Bubble, sebutan yang diberikan Ibos untuk Fat Bubble. 

Seperti meeting sebelumnya, proses diskusi alot berjalan hanya sekitar 2 jam, sisanya ngegosip dan saling ngatain. Lebih banyak Chemi yang ngatain saya sih. Shit. Dimulai dari posting saya di grup Papandayan, foto masakan yang saya buat untuk anak kosan Sa’adah dan makan siang jam 12an. Dan ketika sampai di fat Bubble, Chemi mendapati saya sedang makan mango ice cream bubble seember. Dia langsung mengguyur saya dengan cercaan yang tidak jauh-jauh dari diabete, "tadi baru makan tapi kok makan lagi", sampai saran maha dahsyat untuk diet kalau lengan saya sudah segede paha. 

Padahal aslinya udah takut aja disaingi Ibos tetiba kurus duluan yang makan siangnya cuma apel. Nanti jadi yang paling ginuk di grup Papandayan, itu gak asik sih. Bukan Cuma di dunia nyata, di grup Papandayan pun saya masih jadi korban hinaan anak-anak. Meski kata Chemi tingkat tertinggi persahabatan itu ketika lo udah dihina sehina hinanya. Tapi ini sih niatnya ngehina beneran. 

Tapi ada yang lebih terhina sih dari saya kemarin, makhluk bernama Ibos yang gagal membawa pulang tropi turnamen futsal dan uang seratus juta rupiah, walau menurut penuturan Ibos, nominal itu hanya isu yang saya sebar membabi buta. 

Mungkin karena pagi dia ngecengin saya yang sekarang kena kutukan insomnia, jadinya dapet karma. Pas ditanya gimana hasil tandingnya jawabannya. 

“Kalah. Blunder. Menololkan diri di lapangan”
“Puk puk peyuuukkk…”
“Ape lo peyuuk2 *gaya Ipin*

Biarlah Ibos mempecundangi dirinya sendiri. Saya tetap makan pizza dan French fries di slim bubble. By the way, entah karena alasan apa, Ipin gak pernah balasa wasap saya Hiksss… apa salah gue pin… apaaa???? Salah sih, mungkinkah karena tulisan Geng Papandayan kemarin membuat hidupnya ipin upside down? Tralalaaa… 

Pas lagi makan sama Chemi di Slim Bubble, Ibos ternyata sedang beli frame di melawai, saya ajakin di fat bubble, tapi nampaknya sang jejaka minang sedang pundung. Gak mau ketemu orang, maunya mengunci diri di kamar, dengan astor dan nutella, dan pizza, dan cokelat #BikinIsu

Ibos ini kalau marah agak serem musti ati ati kalau deket-deket, bisa dimakan. Meski nih anak sempat bilang mau meluncur ke fat Bubble kalau ada cewe cantik, tapi akhirnya dia memilih kembali ke sarang. 

Jam 7 akhirnya saya dan chemi mengakhiri pertemuan di slim bubble, meskipun saya sudah melihat mbak-mbak kasirnya mulai gemas karena tujuh jam ada dua cecurut nongkrong gak tahu malu, gak pergi-pergi makan juga seadanya, berisik pulak. 

Meskipun rencana Sindoro batal, tapi semoga lain waktu bisa jalan. Kalau bisa sama anak-anak Papandayan.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Perjalanan - Gunung Lembu Purwakarta

Ini cerita sudah lama, tapi daripada cuma mengendap di folder, mumpun lagi meeting dan rada free jadi bisa gini gitu #loh  chekidot    Goes To Purwakarta Berprinsip “Pantang libur panjang tanpa lanjalan”, saya akhirnya trekking lagi, walau Cuma trekking ke gunung mini, Gunung Lembu setelah setahun gak kemana-mana karena masih proses recovery bantalan sendi lutut yang robek awal tahun 2015 lalu. Sebenernya sih belum sembuh total, tapi udah lumayan banget buat aktivitas, termasuk di banting di aikido :’ Setelah trip ke pulau sangiang oleh Udin Organizer, kali ini lanjalan lagi ke Gunung Lembu di Purwakarta. Inget banget tahun lalu udah ada rencana ke Gunung Lembu, yang bikin Udin juga trus Khalida, Ibos dan Rijal rencananya ikut pas aku masuk grup mereka langsung komen, “Itu lututnya sembuhin dulu” akhirnya dengan ngedumel saya unduru diri dari grup waktu itu. Eh ternyata trip nya gak jadi juga dan baru kesampaian awal tahun 2016. Karena jarak yang cukup...

Review Gear - Deuter Aircontact 50+10 SL

Sekali-kali bikin catatan yang agak berguna bagi dunia persilatan. Demi pelaksanaan hobi jalan-jalan yang lebih nyaman terkendali, akhirnya (mau gak mau) saya musti beli yang namanya carrier. Benda satu ini memang vital banget buat orang-orang yang suka lanjalan utamanya lanjalan menyusuri tanjakan. Berhubung belakangan lagi seneng naik – naik gunung lucu, saya memutuskan untuk beli carrier sendiri. Selama ini carrier modal pinjem temen yang malah seneng carrier nya dipakai. Hahahakkk... #dasarbenalu  Beberapa minggu memilih dan memilah, lihat review sana sini, Udah sampai level browsing toko outdoor yang jualan carrier yang lebih nyaman di kantong juga. Sempat nanya-nanya carrier merk dalam negeri Consina dan Cozmeed demi menyelamatkan dompet dari derita kekeringan. Cukup hati adek yang kering, Bang. #bah Dan hingga ujungnya, pada suatu minggu pilihan saya jatuh pada Deuter Aircontact 50 + 10. Bahahahhaa....  Kalau kata Dimitri, kak iim emang suka random kaya git...

Review Gear Hi-Tec Lima Sport WP Womens

Deripade mosi gegara presentasi project di luluh lantakkan sama bos besar yang kemarin maunya kita ngerjain A dan pas presentasi maunya B, mending saya nulis yang agak guna buat masa depan nusa dan bangsa.  Kali ini saya mau ngasih review gear naik gunung yang menemani kehidupan percintaan saya dengan alam. Soalnya udah lelah mengharapkan percintaan sama manusia #eaaaah #nasibjomblo   Jadi si benda yang akan saya review ini adalah footwear yang emang khusus buat naik gunung yang sudah beberapa kali menemani saya menyusuri lembah dan pinggiran tebing, namanya Sweety, sepatu gunung keluaran Hi-Tec woman series.      Source : hi-tec.com Asalnya saya beli ini karena mau-gak mau. Mau beli barangnya karena pada saat itu saya belum punya sepatu gunung dan kemana-mana mengandalkan sandal gunung sebagai alas kaki, tapi gak mau belinya soalnya harganya relative mahal buat budak kapitalis kaya saya. HIksss….  Setelah bertirakat dan sholat ...