Catatan Perjalanan
Papandayan
“Benda
bisa hilang, Tapi pengalaman tidak akan bisa dicuri”.
“Apalagi gebetan, bisa diambil orang, ditikung
macomblang, atau lari bersama orang.” #nahloh
Berbekal
keyakinan bahwa perempuan istri-able
itu yang bisa diajak munggah mudhun
gunung anjlog samodra1. Di awal tahun 2015, saya mengumpulkan
tekad baja untuk mewujudkan niatan camping
di gunung yang termanifestasikan dalam resolusi nomor 5 tahun ini.Setelah
berkali-kali berakhir dengan wacana, mulai dari alas an ikut ujian aikido,
ketua rombongan ikut interview di perusahaan, hingga alas an klasik minimnya
budget ‘kenakalan perempuan’. akhirnya Papandayan menjadi destinasi pendakian
perdana bagi saya. Meskipun lebih tepat jika perjalanan kali ini saya sebut
camping cantik. Karena nyatanya track
Papandayan memang tergolong paling mudah diantara gunung-gunung yang lain.
Naik gunung, beres! Lalu bagaimana dengan ‘anjlog
samodra’?. Keberuntungan menaungi konstelasi Virgo berdarah O akhir tahun 2014
lalu hingga sebuah kertas A4 dengan kop sebuah institusi sekolah diving
mencantumkan nama saya sebagai pemegang sertifikasi basic diver setelah melalui
pergulatan antara hidup dan mati yang dramatis untuk mendapatkannya.
Tsaaaahhh…. #kibasjenggot
Pendakian
Bermula dan Selimut Tetangga
Dengan
menimbang dan mengingat weton serta primbon, akhirnya tanggal 17-19 April
2015 dipilih sebagai hari baik perjalanan camping ke Papandayan. Saya
berterimakasih kepada Teh Iqna yang telah mengajak saya ikut perjalanan kali
ini setelah tawaran mendaki Merbabu saya tolak dengan alasan klasik - kantong kering.
Oleh Chemi sebagai ketua perjalanan, saya dimasukkan ke grup
chatting.Sejujurnya hanya beberapa orang di grup itu yang sudah saya kenal,
rata-rata senior satu jurusan sewaktu di kampus, yang lain gak tahu, yang
namanya Harri, Rizal, Futuhal, Nofa. Tapi kalau gak dimasukin satu grup kapan
kenalnya? Nanti pas di TKP juga harus kenalan kan pada akhirnya. H-2
perjalanan, grup pendakian ramai dengan bahasan pembagian barang bawaan
kelompok dan pribadi, mulai dari tenda hingga logistik – memastikan bahwa semua
siap dan tidak ada ceritanya camping di gunung tidur beratapkan langit malam karena
lupa tidak membawa tenda, meskipun ide itu terdengar romantis. Jum’at pagi,
Neng Khalida, salah satu dari beberapa senior sejurusan di tim pendakian sudah
menyambangi kostan saya untuk menitipkan keril yang sudah siap angkut.
Berbanding terbalik dengan barang bawaan saya yang masih berserakan di lantai
kamar kostan. Sebuah kabar gembira tersampaikan lewat sebuah pesan singkat,
membuka kesempatan untuk mewujudkan mimpi mendaki Rinjani awal Juni ini, meski
nampaknya akan ada penundaan, atau opsi terburuk pembatalan.
Kwetiau
di dekat gang kostan menjadi ‘pengganjal’ perut sebelum berangkat naik bikun
terakhir. Dua wanita perkasa yang menggendong keril seberat 13 kg menambah
sempitnya bikun dengan tas berukuran besar di punggung. Kesalahan ‘fatal’saya
lakukan ketika packing dengan meletakkan dua botol air mineral 1,5 liter di
dalam keril dengan pertimbangan ketika naik bikun akan lebih rapih. Efeknya
mematikan. Rusuk atas saya serasa terhimpit seekor Gajah Lampung dewasa -
menyebabkan sulit bernapas. Rasanya lebih sakit dari cinta tak berbalas.
Sampai
di Kober, saya packing ulang barang
bawaan nista itu dan menambah perbekalan makanan mengandung gula sederhana
untuk di jalan. Dari rencana awal pukul 10 sudah berangkat dari Kampung
Rambutan ke Garut, realisasinya pada setengah 11 beberapa dari kami baru naik
angkot dari Kober. Sebagian besar rombongan sudah ‘meluncur’ lebih dulu ke
Kampung Rambutan. Tersisa saya dan Neng Khalida bersama Ipin, Ibos, Johan, dan
Haidar yang terakhir ‘ngangkot’ ke terminal. Kecuali Khalida, dengan empat
orang lain saya baru berkenalan di Kober. Tapi orang dengan frekuensi yang sama
akan dipertemukan. Bahkan di dalam angkot, tawa sudah mulai pecah diantara
kami.
Pukul
11 malam, kami berangkat dari Kampung Rambutan ke Terminal Guntur, Garut.
Perjalanan 5 jam saya habiskan dengan tidur. Percakapan dengan teh Iqna yang
duduk di sebelah saya hanya berlangsung sekitar setengah jam. Bis jarak jauh
seringkali menawarkan pelayanan ekstra seperti smoking room dan fasilitas audio. Lagu-lagu karya anak negeri
mengalun dari pengeras suara di dalam bis. Awalnya saya menikmati beberapa lagu
yang easy listening, hingga berujung
pada lagu Selimut Tetangga yang nampaknya merasuk jauh lebih dalam ke alam
bawah sadar rombongan Papandayan. Lagu itu menjadi bahasan pertama ketika
sampai di Terminal Guntur.
Bukan
pendaki namanya kalau tidak bisa melakukan hal-hal ajaib. Pukul 3.15 dini hari,
rombongan sampai di Terminal Guntur. Setelah diskusi yang alot dengan dibumbui
bahasa sunda yang kental oleh ahlinya yaitu Teh Iqna dan Chemi, 40 menit
kemudian kami ber 16 menjelma menjadi ikan sarden selama 30 menit dalam satu
angkot menuju Ciapus. Jangan tanya gimana bisa muat.
Sampai
Ciapus, kami disambut langit berbintang yang sangat langka ditemukan di Jakarta
dan sekitarnya. Beristirahat di masjid yang memang menjadi langganan mereka
yang ingin naik ke Papandayan. Usai salat subuh dan sarapan Kupat Tahu, pukul
6.45 perjalanan dilanjut dengan naik pick
up ke titik awal pendakian. Hawa dingin dan bau belerang sudah mulai terasa
begitu turun dari pick up. Pukul 8
pagi, Chemi sebagai ketua rombongan memimpin doa dan mulailah perjuangan yang
cukup melelahkan. Salah satu tips jika naik gunung dan kelelahan di jalan,
jangan melepaskan keril yang dibawa karena itu akan membuat tubuh beradaptasi
lagi dengan beban berat ketika tas kembali diangkut. Cukup membungkuk seperti
posisi ruku’ dalam salat untuk
menyeimbangkan beban di pundak dan punggung. Bau belerang yang menyengat
menjadi tantangan pertama bagi saya yang sensitif terhadap bau dan dengan sekejap
membuat mata pedih. Serupa rokok, SO2 menyebabkan oksigen yang masuk
ke dalam paru-paru menjadi sedikit. Slayer menjadi benda yang sangat multi
fungsi di saat seperti ini. Cukup dikalungkan di leher dan ketika bau belerang
mulai terasa, tinggal tarik untuk menutup hidung dan mulut.
Full Team (Photo courtesy : Iqna Qisthiya)
Kancut
Di Atas Pohon dan Panggilan Alam
Demi
segera melewati neraka belerang, saya mendaki lebih cepat mengejar Ipin yang
sudah jauh paling depan. Perjalanan berlanjut dengan track datar berbatu, dan beberapa tanjakan dan turunan. Pada sepertiga
perjalanan, kami sudah disuguhi pemandangan tebing yang menampilkan kota Garut
di kejauhan. Melihatnya dari ketinggian membuat semua lebih indah. Sekitar empat
jam perjalanan diperlukan mulai dari titik awal hingga sampai basecamp. Papandayan bisa dibilang
gunung dengan surga fasilitas dimana akan ditemukan pedagang cilok, toilet
umum, dan juga penjual makanan dan minuman di basecamp. Mungkin bertanya-tanya bagaimana mereka bisa sampai kesana.
Jawabannya beberapa orang yang menantang batasan mereka sendiri, menaiki motor trail. Meskipun menurut saya yang newbie pun track Papandayan tergolong
santai. Tapi naik motor trail tidak akan pernah menjadi opsi yang terlintas
dalam pikiran saya.
Di
basecamp, rombongan besar kami pecah
menjadi dua. 9 perempuan dan 5 laki-laki yang memang berniat nge-camp,stay di basecamp diketuai Chemi, sisanya dipimpin Nofa melanjutkan
perjalanan ke puncak demi rencana untuk tek tok2. Hawa dingin
merambat meskipun tengah hari. Karena itu harus bergerak. Empat tenda berdiri
dengan gagah setelah perjuangan keras mengakali satu tenda tanpa pasak dan
tiang yang patah. Perbedaan gender mulai bias di atas gunung. Cewe vs cowo bersaing
memperebutkan tenda paling besar dan dimenangkan oleh cowo dengan strategi
melempar keril mereka langsung ke dalam tenda begitu kokoh berdiri. Para
perempuan harus berpuas diri satu tenda bertiga. Di atas gunung, tidur dengan
banyak orang dalam satu tenda jauh lebih nyaman mengingat udara malam hari
sangat dingin.
Hal
ajaib muncul ketika kami berencana memasang fly
sheet. Pada sebatang pohon di belakang tenda kami, nangkring sebentuk celana dalam cowo di salah satu ranting yang
cukup tinggi. Berbagai asumsi berkelebat di pikiran kami. Asumsi pertama, itu
jimat demi keamanan basecamp harus
dipasang disana, asumsi kedua ada yang isengmemanjat pohon trus kolornya
nyangkut di atas, asumsi ketiga, kolor temennya disangkutin dengan dilempar ke
atas pohon. Semua asumsi hanya menambah pecahnya tawa kami.
Bagi
saya, hal paling menggalaukan di atas gunung adalah ketika alam memanggil.
Hasrat untuk buang air kecil mulai tak tertahankan. Saya dan Kak Pijar yang
nampaknya punya jam biologis serupa memutuskan untuk ‘nyemak’3. Nana
– anggota rombongan lain yang punya hajat yang sama, masih ingin jadi cewe
baik-baik memilih menunggu satu setengah jam di toilet umum. Petualangan
dimulai menuju ke arah selatan base camp, masih banyak tenda bercokol, sedang
yang kami cari adalah semak-semak yang sepi dan jauh dari pandangan. Akhirnya
pilihan jatuh ke semak-semak di samping hutan. Thrilling sekali memang. Sensasinya luar biasa. Hahaha... Dengan
perasaan lega kami kembali ke basecamp.
Usai makan siang nasi bungkus yang di beli dari Ciapus, sebagian besar dari
kami tidur. Capek???, jelas!!! Kami para cewe masih berusaha menjajah tenda
cowo dengan main kartu di dalam tenda mereka ketika para lelaki sedang salat
dhuhur. Oiya, kenyamanan lain di Papandayan adalah ada saung buat sholat nya.
Juga tempat wudhu dekat toilet umum.
Menjelang
sore, sekitar pukul 4, Chemi mengajak rombongan ke hutan mati untuk
jalan-jalan. Hutan mati literally
mati. Batuan kapur cadas dengan pepohonan tanpa daun, hanya tinggal batang yang
mengering. Tapi itu yang membuatnya eksotik. Jalan ke hutan mati berlumpur dan
basah diiringi gerimis dan udara yang cukup dingin. Pada saat seperti itu,
jaket polar dengan bahan bagian luar wind
breaker sangat bermanfaat. Pemandangan kayu-kayu mati berwarna cokelat tua,
tanpa daun membuat saya berhenti dan berdecap subhanallah.
Seperti kesedihan, dan
kesepian. Tapi anehnya menyimpan keindahan sekaligus magis. Dia dikagumi dalam
luka. Dan aku hanyut dalam pesona. Keindahan dalam rasa sakit. Mahakarya yang
muncul dari dasar jiwa yang menderita. Karena hidup yang tak berlangsung lama,
karena cinta yang tak tersampaikan, karena gurat-gurat luka yang ditempat
bertahun-tahun menjelma menjadi prasasti indah menyilaukan mata.
....
Depok,
27 April
2015 (10.14)
Nur
Halimah
Comments
Post a Comment