Akhirnya setelah
ditirakatin puasa Daud, berendem di kali yang airnya mengalir, catatan ini
keluar juga. Padahal perjalanannya udah hampir setahun. Catatannya baru keluar
sekarang. Huksss... Maafkan saya, yang (sok) sibuk ini. Sudah jadi budak
kapitalis, makin susah nyari waktu buat nulis ini itu.
Catatan perjalanan
Papandayan ini akan mengisahkan cerita lanjutan dari perjalanan ke Gunung
Papandayan nan elok bulan Mei lalu. Perjalanan yang awalnya hanya buat nge
trip, akhirnya membawa beberapa diantara kami menjalin pertemanan yang cukup
akrab. Ada yang berantem mulu di grup, ada yang cinlok à atau dicengin
cinlok, ada yang dicengin suami isteri saking hobinya saling ngatain babi, ada
yang mau bikin usaha bareng. Macem-macem... Awalnya Cuma ketemu pas nge-trip,
jadi bikin acara ketemuan-ketemuan lain, jogging bareng, buka puasa bareng,
belanja bareng, nonton bareng. Tidur pun bareng... di rumah masing-masing.
Disini akan
dikisahkan mengenai jalan-jalan sore di hutan mati, makan malam penuh drama,
.... babiiii .... dan nanjak dini hari, downhill
maze runner, ibos pundung dan perjalanan pulang, tak menunggu lama, kita lahap
sajian pertama
Jalan-jalan Sore di Hutan Mati
Menurut saksi
hidup, Chemi sebagai ketua perjalanan mengajak kami untuk jalan-jalan sore ke
Hutan Mati. Hutan Mati ini salah satu lokasi di area gunung Papandayan yang
akibat letusannya kawasan hutannya menjadi kering kerontang, tanah berkapur dan
pepohonan yang tinggal batang kayunya saja. Gak punya daun, botak, kaya rambut
salah satu senpai di Ai**do... #AbisIniSiap2Digorok
Sore hari yang
awalnya cerah, kami mulai berjalan mengikuti jalur ke hutan mati. Kondisi jalan
masih basah dan becek di beberapa tempat, juga harus menyebrangi lewat sungai
mini. Untungnya ada pria-pria baik hati yang siap menolong menyebrangi jalur
mata air. Pas Chemi mengulurkan tangannya, saya segera meraih melompati batuan
dan hap, lompat ke daratan, sebelum dia berubah pikiran dan dengan tega
menjorokkan saya ke mata air.
Setelah
bermandikan peluh #tsah, kami sampai di Hutan Mati. Yang bisa banget jadi
tempat favorit untuk berfoto – atau pre wedding. Hahahaa... Pre wedding nya
perlu usaha keras. Saya pribadi punya rencana kalau foto pre or pasca wedding
mau di tempat-tempat beginian. Yang udah ada di list sih, Hutan Mati
Papandayan, Puncak Keteng Songo dan Puncak Triangulasi Gunung Merbabu, Kaldera
Gunung Galunggung, Oro-oro Ombo dan Ranukumbolo Gunung Semeru, Puncak Rinjani.
Yang belum ada di list cuman yang mau diajak pre wed doang hahaha...
#DasarJomblo
Sesampainya di
lokasi bernama Hutan Mati, yang kami lihat adalah hamparan tanah putih dengan
pohon kering di sana sini, pohon yang lebih mirip bekas terbakar, Tapi
sejujurnya sangat indah. Eksotik, magis, bagus aja pokoknya. Sedetik kemudian Hutan Mati kami nobatkan menjadi spot
pemotretan pertama rombongan Papandayan. Yang awalnya pada diem-diem, Muncullah sifat asli kami – bergaya normal hongga abnormal. Saya masih
mengutuki kecerobohan ketika one day trip ke Leuwi Hejo yang memakan korban si
Item, kamera digital kesayangan saya. Alhasil,
selama di Papandayan, saya gagal mengoleksi foto bagus, hiks. Setelah
beberapa kali sesi foto, mau tak mau, kehendak alam membuat kami harus kembali
ke tenda.
Hujan syahdu dan masuknya waktu maghrib memaksa kami untuk kembali ke
camp. Dengan setengah berlari melewati edelweiss yang nangkring di sepanjang
perjalanan kembali, melewati jalan sempit berlumpur. Saya bersyukur, jaket polar
berwarna orange cerah dan abu-abu yang lebih mirip jaket naruto saya ternyata punya fitur anti air. Jaket naruto kebanggaan yang sama
anak-anak dikatain jaket tahanan KPK T_T, masih sempat loh, difoto pas lagi
gerimis-gerimis. Melewati kembali jalan becek berlumpur
dan mata air hingga di kejauhan kami bisa melehat tenda warna warni, untungnya
sampai di camp gak jadi hujan deras, cuman basah aja.
Makan malam penuh drama
Usai salah
magrhib, tugas kami para perempuan menyiapkan makanan dengan menu: mie instan
dan kornet sayangnya karena tidak ada kesepakatan mie jenis apa yang dibawa,
jadilah mie instan berbagai rupa muncul dan dengan mengatasnamakan efisiensi,
itu mie dicemplungin aja pokoknya, tanggung jawab sama bumbu masing-masing. Hasilnya
ada yang makan di satu nesting bumbunya dua jenis dan sebagainya. Para lelaki
sangat excited memakan mie instan sosis yang spesial buat mereka.
Petaka datang
ketika kami mau goreng kornet, yang dibawa sebagai perbekalan jenis kornet yang
bukanya pakai alat khusus. Ibos dan Chemi dianugerahi tanggung jawab sebagai
pembuka kornet. Saking semangatnya, tangan Chemi sampai berdarah terkena
pinggiran kaleng aluminium dengan kondisi terakhir harus dirawat dengan 12
jahitan, 6 kali menang, 7 draw dan 35 kali KO, mengharuskan kami melakukan CPR
kepada yang bersangkutan, ya mungkin ada setetes dua tetes darah chemi masuk ke
dalam kornet, tapi biarlah. Amannya tidak ada anggota rombongan yang disinyalir
keturunan drakula. Kalau gak, mungkin keesokan harinya chemi sudah terbujur kaku
kehabisan darah.
Saya makan malam
romantis dengan Kak Iqna di tenda kami tercinta (lebih tepatnya
tenda Udin yang dipinjam) yang juga dijadikan tempat
penyimpanan keril ciwi ciwi. Sembari menikmati sisa-sisa potongan jelly dengan
apel buatan Johan dan Haidar. Dua pria yang disinyalir baru pertama kali
membuat jelly dan dengan kreativitas tinggi berkarya tanpa membaca lebih dulu
label “cara pembuatan” yang terpampang ganteng di balik kemasan. Jadilan jelly yang
menggumpa;-gumpal unyu. Tapi berhubung lapar dan termakan hasutan cacing di
dalam perut, jadilah saya dan perempuan lain juga ikutan makan. Bahkan
mengambil jatah paling banyak.
Perut kenyang dengan mie instan kornet, serta kepuasan sebagai wanita
melihat para lelaki mencuci peralatan masak di dekat tenda. Entah
mengapa ekspresi mereka bahagia banget nyuci alat masak, mungkin lain kali
kalau butuh pencuci piring, dan ingin menyewa jasa mereka bisa hubungin saya
sebagai penyalur. Usai kenyang dan minum – minum sampe mabok energen dan teh
anget kami mengisi seperempat malam dengan kegiatan paling produktif di gunung.
Main kartu – permainan yang dinamakan cepek, dimana
setiap orang akan mendapatkan kemenangan apabila kartunya habis duluan dengan
menggenapkan hitungan menjadi cepek. Skill
yang diperlukan dalam permainan ini hanya lulus Kalkulus Lanjut (secara perlu
ngitung angka) dan ketahanan fisik terhadap udara dingin. Permainan dimulai
dari kemenangan neng Khalida berturut-turut, kami bersekongkol untuk membuat
dia kalah meskipun sulit, dewi fortuna tidak selamanya menghinggapi Khalida,
karena selanjutnya Kak Iqna yang menang. Karena udara makin dingin, satu
persatu peserta tumbang , gak kuat dan masuk ke tenda masing-masing. Permainan
berjalan sengit disertai candaan ala ala dengan bumbu vulgar. Duh
anak-anak ini butuh
disadarkan, (ceritanya sok gak ikut-ikutan).
Malam semakin larut, saya sudah berganti pakaian agar besok langsung
siap muncak. Permainan
kartu dengan peserta awal 8 orang, tersisa tiga orang
yang masih menantang dinginnya malam di gunung. Mirip-mirip
hunger games gitu. Saya, Ibos dan Chemi menjadi tiga
peserta terakhir yang masih bersedia mengadu keberuntungan sambil mengadu badan
sama hawa dingin. Dengan dua pria jomblo dalam permainan, candaan
menjurus semakin tak terkendali. Chemi dengan kreativitasnya yang tinggi
memainkan sosis instan tinggal makan, mengeluarkan separuh isinya dan
menggoyang-goyangkannya. Tanpa komando, tawa pecah diantara kami, sampah emang.
Candaan 17 tahun keatas bagi saya yang masih 15 tahun ini Huftsss...
Meski ditunjang
aktivitas pro kesehatan seperti main volly bagi Chemi, futsal buat Ibos, dan
aikido bagi saya, pada akhirnya kami pun mulai tumbang, kelelahan karena
terlalu banyak tertawa dan kedinginan, kami pergi ke tenda masing-masing. Saya
menyelipkan tubuh ke dalam sleeping bag bagai kepompong. Untung di
sebelah saya ada Kak
Iqna dan Vita yang membuat tenda sedikit lebih hangat. Set buat
bobok, jaket polar, sarung tangan, kaus kaki, sleeping bag, dan akan semakin
hangan jika ada pelukan, sayang gak ada yang meluk.
Tengah malam ada
berisik-berisik di luar tenda, tapi karena malasnya tidak berminat untuk tahu
apa yang terjadi di luar, saya tetap meringkel di dalam sleeping bag. Beberapa
kali terbangun karena dingin dan posisi tidur yang gak enak karena tanahnya
bergelombang, akhirnya jam 4 kami bangun dan bersiap untuk muncak. Beberapa
memulai penbicaraan tentang ribut-ribut di luar tenda semalam.
Babi... dan Nanjak Dini Hari
Usut punya usut,
sebab musabab keributan semalam adalah kehadiran tamu sebentuk babi hutan yang
menyambangi entah tenda siapa. Kadang memang suka begitu, suka ada yang iseng
main ke tenda nyari makan. Atau mungkin babi itu kesepian, dan kedinginan, mau
minjem sleeping bag, atau mau minta peluk. Tapi sudahlah, biarkan babi mengurus
dirinya sendiri. Semoga di luar sana, dia mendapatkan kehangatan dan kasih
sayang yang dia butuhkan.
Laskar jomblo
segera merangsek melewati semak menembus pepohonan, Chemi sebagai ketua
kelompok memimpin di depan. Ibos sebagai yang bisa diandalkan jadi sweeper di
belakang. Kenapa bukan Ipin? Soalnya bisa-bisa nanti ditinggal saking
semangatnya jalan di depan. #DosaGueBanyakKeIpin, Saya, Khalida dan Ibos jadi
tiga paling belakang, ketawa ketiwi entah karena bahas apa. Ujungnya ketawa
aja. Meskipun jalan menanjak, tapi masih bisa ditolerir. Berhubung yang mimpin
jalan lupa lupa inget jalur ke puncak, akhirnya nanya-nanya juga ke penghuni
tenda yang nyempil di dalem hutan. Entah mereka ranger atau emang cuma iseng
masang tenda di tengah-tengah hutan sendirian. Setelah beberapa kali trial
& error, akhirnya nemu juga jalan yang benar, jalan yang lurus, shirotol
mustaqim.
Meskipun begitu
tetap saja kami menggigil juga kedinginan sekaligus kepanasan. Udara luar
memberikan sensai dingin menusuk tulang, tapi karena berjalanan nanjak,
mitokondria di dalam sel bekerja lebih keras dan membuat panas tubuh menjadi
naik. Sepanjang perjalanan saya puas melihat bintang. “People choose to sleep
in five star hotel. I choose to sleep under five billion star in a tent”. Kenikmatan
melihat bintang kabur akibat udara dingin yang bikin orang jadi beser. Saya dan
Khalida memiliki hajat yang sama. Akhirnya Ibos jadi korban buat jagain kami
yang lagi menunaikan tugas mulia, menghujani semak-semak dengan urea.
Selepas jalanan berlumpur
licin, bonus nya bernama tanjakan mamang menurut Khalida, mungkin ada juga
tanjakan teteh di sisi gunung yang lain. Sekitar 20 menit merangkak dengan
kemiringan yang cukup buat bikin jidat ketemu lutut. Walau katanya cikuray
lebih sadis. Jidat nempel lututnya berjam-jam. Tapi apapun, rintangan harus
dilalui, halangan harus dihadapi. Akhirnya tanjakan mamang terlewati. Dengan
hadiah pemandangan indah di balik punggung kami. Matahari yang mulai
menampakkan diri, langit jingga kelabu semburat
ungu membentuk gradasi, keindahan karya ilahi.
Melihat demikian, saya
insaf, hanya bisa bilang “Subhanallah, dan MasyaAllah”
Usai tanjakan
mamang yang cukup bikin elus-elus lutut, kami sampai di padang edelweis.
Menjadi rombongan pertama yang sampai disana. Edelweis dimana-mana.
Dimana-mana. Lagi banyakan ijo, Ujungny aja yang putih. Tapi tetep keren. Berhubung
pas disana waktu subuh tiba, para pria menggelar jaket sebagai sajadah. Chemi
menjadi imam para lelaki. Rombongan berganti, para perempuan salat berjamaah,
dengan saya sebagai imam yang ditunjuk secara aklamasi.
Setelah itu,
Apa lagi kalau
bukan sesi foto. Foto dengan tulisan “be here soon”, sayang keluarga, dan
apapun. Foto berbagai gaya, ada yang lompat di udara, ada yang salto, ada yang
terbang. Setelah puas berfoto ria, ceritanya nge bekel buat masak popmi di
hamparan edelweis. Goreng nugget, sosis, dan nyeduh mi. Sayang air yang dibawa
tinggal sedikit, jadilah beberapa diantara kami didaulat mencari sumber air. Walau
akhirnya jadi salah fokus.
Berawal dari
instruksi Khalida buat nyari air, rombongan F5 dengan anggota Chemi, Ibos,
Ipin, Johan dan Haidar, plus dua cewe sebentuk Iim dan Kak Iqna yang ikut –
ikutan, mengeksplor lembah edelweis. Kami menemukan hal luar biasa, discovery
berharga sepanjang masa. Apa lagi kalau bukan spot foto (again). Sebuah danau
yang sekiranya tidak terlalu dalam dengan sisi kanan kiri tebing yang dipenuhi
pepohonan hijau, saya menyebutnya mirror lake, karena bagus banget. Puaslah
kami berfoto disana. Lokasinya cocok buat jadi wallpaper. Tiba-tiba anak-anak
sudah menjelma jadi model majalah trubus.
Kembali ke tujuan
awal, mencari air, awalnya kami berharap air di danau bisa diminum, tapi
berhubung melihat kondisi air danaunya yang ‘statis’ alias gak ada pertukaran atau
aliran air, kami memilih mencari air di lokasi lain. Menjelajah sana sini,
sambil sembunyi dari Khalida. Kalau dia tahu kita foto-foto pasti ngambek. Akhirnya
kedengeran juga ada suara sungai. Seru banget ada air di atas gunung-___-
hahaha... Tapi jalannya gak oke, curam banget, jadi cuma Chemi, Ipin, dan
Haidar yang turun. Saya, Johan, Kak Iqna dan Ibos di atas, foto-foto. Hahaha...
masalahnya background nya gunung biru di kejauhan, yang nampak diapit tebing. Asli
keren. Setelah mengisi botol mineral 1,5 liter dengan perjalanan penuh foto-foto
perjuangan, kami kembali ke tempat ngumpul anak-anak. Benar saja, anak ayam
yang pulang kemaleman diomelin emaknya. Khalida ngambek, nyari air lama. Sampai
dia nyariin kami, akhirnya sebagai anggota dejoan, Ibos dan Chemi lah yang
‘bertugas’ menenangkan macan ngamuk. Tapi Khalida tetaplah Khalida, dia akan
selalu ceria, berbagi cerita, pemecah suasana, mengumpulkan kami semua.
Entah kenapa ada botol aqua yang diacungkan dengan bangga disana
Puas di atas,
berkemas dan membersihkan semua sisa popmi, dan sebagainya, kami turun ke
bawah. Plus foto bersama untuk kenang-kenangan. Tak lupa Ibos dan Chemi yang
heboh liat ada cewe cakep walau ada anjingnya. Dasar pria. Terakhir pas nonton
fils sama tuh cowo bertiga kelakuannya masih sama. Ckckck... Tapi apapun saya
tetap sayang sama mereka. Sudah mem propose rencana mulia kepada Chemi dan
Ijal, pokonya mereka gak boleh nikah sebelum saya, karena saya bakal
kehilangan, bakal gak ada lagi cerita seru main sama-sama, bakal gabisa jalan
bareng, nonton bareng lagi. Dan yang paling extreem, saya pengen kita berempat
gak usah ada yang nikah aja, biar bisa tetep sama-sama, main kemana-mana, jalan
ketawa-tawa. Meskipun gak ada yang setuju hahaha... Rencana ini belum aja
sampai kuping Ibos, kalau dia tahu bisa diceramahin tiga hari tiga malem.
Dengan cara khas harsh nya ke saya. Hahaha ... Ya Allah berilah saya kesabaran
menghadapi uda minang anak gaul bursa saham ini ya Allah.
Kembali turun
lewatin tanjakan mamang, dan berpapasan dengan beberapa rombongan yang naik
gunung dengan cara ekstrem. Pakai kaus kutang dan celana pendek se paha. Saya
gak paham niatnya apa. Tapi bairlah itu hak mereka (tetep aja dibahas disini). Mayan
juga anugerah bagi lelaki jalang lajang yang bersama saya. Katanya sih
pemandangan.
Downhill Maze Running
Kami lewatin lagi
jalur hutan mati yang lebih indah pas siang. Mengambil beberapa foto, lalu
turun dengan – lari . Yup, sebagai langkah ekstreem untuk mengurangi lelah
karena perjalanan turun sejujurnya lebih bikin capek dari naik, saya, Khalida
dan Ipin jadi pelopor menjadi maze runner dengan jalur down hill. Tapi
sejujurnya turun sambil lari itu asik, dan berasa keren. Hahaha sekalian
ngurangin tekanan di lutut walau sampai sekarang saya belum nyari penjelasan
ilmiah bener gak kaya gitu, waktu itu yang penting gak kecapean aja turun ke
bawahnya. Lewat batuan cadas dan tanah dan menjaga keseimbangan dengan
menepukkan tangan pada batang pohon agar tidak menabrak di tikungan atau terjatuh.
Hal paling seru
selama perjalanan itu sih, larinya kaya udah gak ada beban dan gak perlu
ngeluarin energi lagi. Gravitasi berpadu dengan energi potensial dan kinetik.
Asik-asik menantang gimana gitu. Pertanyaannya apakah sok-sokan jadi maze
runner di Hutan Mati itu jadi salah satu pemicu robeknya bantalan sendi lutut
saya atau bukan masih wallahualam bi showab.
Sampai di tenda,
kami menyiapkan makanan. Menu nasi, nugget, dan sarden. Walau nampaknya sarden
gak begitu cocok jadi menu santap siang. Usai makan siang, yang tugas mulia
mencuci piring dikerjakan oleh Johan sebagai hukuman hadiah karena
semalam pas cowo-cowo nyuci alat masak, dianya ketiduran, jadilah dia kerjakan
itu bersih-bersih nesting. Sebelum turun salat dulu ke saung area wudhu. Keren
kan, di basecamp atas gunung ada tempat wudhu, saung buat salat, toilet umum. Walau
saya lebih seneng nyemak. Hahaha.... Tapi denger2, di Kandang Badak juga udah
ada. Yang lebih seru di puncak gunung Lawu ada warungnya. Iye lah, yang dateng
kesana bukan Cuma pendaki, tapi juga pencari rejeki.
Salatnya bareng
sama Ibos, trus liat cewe cakep yang ditunjuk-tunjuk cowo2 pas di padang
edelweis, bukannya ibos, malah saya yang heboh, menjadikan ibos menobatkan saya
sebagai murid Chemi. Berhubung wudhu duluan saya salat duluan, ibos nyusul,
tapinya dia malah didaulat jadi imam salat sama beberapa orang, jadilah saya
menunggu, dan balik habis dia kelar.
Barang di kemas,
tenda dirubuhkan, peralatan masuk ke dalam carrier masing-masing, tak lupa dua
kantong sampah yang dibawa turun biar gak ngotorin basecamp. Prinsipnya datang
bersih, pulang bersih. Satu hal tolol yang saya lakukan ketika packing, satu
kaleng sarden yang tersisa diminta saya untuk bawa pulang. Dengan bodohnya cerdasnya,
saya masukkan kaleng sarden di dalam nesting yang bikin rongga. Awalnya sih
oke, tapi pas mulai turun, besi beradu besi di dalam carrier bikin suara gaduh
bikin orang penasaran. Karena sayanya juga males dengernya akhirnya saya pakai
carrier agak miring biar gak rame. Noh yang penasaran suara apa yang bikin
gaduh pas turun ke starting point. Hahaha ... Yang menololkan diri bukan cuma
yang ikut turnamen futsal. #trusadayangpundung
Dari basecamp
cukup butuh 2 jam an buat turun. Tak lupa berfoto di spot oke. Tak lupa minta
Chemi motoin. Pokonya sekarang prinsip saya. Kalau traveling musti ngajak
Chemi, biar fotonya bagus. Terbukti waktu trip ke Pulau Sangiang. Foto-foto
candid Chemi jadi yang paling instagramable. Macem foto galau gitu, aslinya
galau juga sih, mikir bisa gak pemandangan oke di depan mata ini dibawa ke
kantor.
Sedikit masalah di
perjalanan turun, Hima salah satu anggota rombongan kesleo pas turun. Yang
masih disyukuri jarak antara TKP dengan start point pendakian gak jauh lagi,
tapi tetap harus dikasih pertolongan pertama. Saya minta carrier hima ditukar
dengan daypack Johan biar lebih ringan bawanya. Pertolongan pertama berupa
mencopot sandal gunung dan kaus kaki, lalu melakukan pijatan ringan dengan
sedikit kiatsu. Konsep yang saya pelajari di Aikido mengalirkan energi ke tubuh
orang lain di lokasi yang sakit untuk tujuan penyembuhan. Walau gak bisa sembuh
langsung total, tapi menurut pengakuan yang bersangkutan sakitnya mulai
berkurang. Perjalanan turun kami dihadiahi hujan, Chemi menginstruksikan kami
turun duluan, dia dan Ibos yang mendampingi Hima turun. Untungnya sih gak
terlalu jauh, tinggal seratusan meter, walau itu hell buat yang sakit. Puk puk
Hima. Dalam kondisi demikian, kami masih sempat berfoto, kebetulan saya, Kak
Iqna, Vita dan temennya vita memakai jas hujan yang warnanya sama, ijo. Jadilah
foto ibu-ibu muslimah.
Ibos Pundung dan Perjalanan Pulang
Sampai bawah
ujannya mulai heboh, kami yang bawa bekel dari puncak akhirnya makan karena
kelaperan. Kak iqna yang keibuan membagikan makanan yang disimpan di beberapa
carrier yang emang ditujukan buat bekel pulang. Ini cewe strong juga walau
nampak girly banget. Bertugas bawa tenda dan kompor, juga nesting. Tak lupa
Khalida yang membawa logistik dan punya spesialisasi bisa tidur dimana aja.
Bahkan di jalan pas nanjak sambil nungguin yang lain naik, dia bisa ngaso di
pinggir jalur pendakian lalu bobo. Literally bobo.
Setelah makan
dengan porsi seadanya, terjadilah negosiasi pulang menggunakan puck up, menuju
basecamp masjid. Di perjalanan pulang banyak candaan-candaan berkelas hingga
murahan yang terlontar. Dan kami tertawa. Banyakan ngecengin Nana dan Johan, si
Johan nya seneng dicengin sama Nana, giliran Nana nya selooo abiss... sama kaya
sepupunya, Pijar. Hahaha... Ada yang cerita tentang skripsinya ada yang cerita
tentang istilah-istilah yang membuat ketawa. Cuma satu makhluk yang keliatan
gak menikmati perjalanan pulang, Si Ibos nampaknya sedang pundung entah karena
alasan apa. Pas yang lain ketawa, dia cuman cemberut hahaha... kalau udah gitu
yang bisa dilakukan cuma dibiarin daripada panjang urusan. Kaya abis blunder
main futsal beberapa waktu yang lalu, yang bersangkutan beli frame, saya dan
Chemi mengajak dia ke Fat Bubble, dan ketika dia menolak kami biarkan. Gak
boleh dipaksa anaknya.
Dari semua cowo
hanya haidar yang lempeng. Johan begitu menikmati pas dicengin sama Nana. Kak
Pijar diam-diam seneng juga ada bahan ketawaan. Jam 3.30 sore kami sampai di
masjid, setelah buang hajat, pergi ke alfamart beli beberapa benda, kami melanjutkan
perjalanan dengan minibus menuju terminal Garut. Di dalem masih aja ada bahasan
dan bahan becandaan. Yang tersisa di minibus tinggal beberapa orang, Vita and
the gang memisahkan diri karena mereka pulangnya ke Bandung, kami-kami ke
Jakarta. Perputaran uang pun terjadi, Kak Iqna sebagai penanggungjawab keuangan
dengan cepat menghitung, saya bantuin nyatet sama bantuin doa.
Sampai di stasiun
Garut sudah sore, hampir maghrib dan kebetulan jadwal keberangkatan bis ke
Jakarta yang terakhir, kami sampai lari-lari karena bisnya sudah mau berangkat.
Lucky us. Masih dapet tempat duduk walau di belakang. Kembali ke bis, kembali
ke bahasan rumput tetangga. Dan kembali membahas Johan yang salting dicengin
terus sama Nana. Sudah lupa apa aja yang dibahas, yang jelas kita ngakak gak
kontrol, becanda berasa itu bis milik kita sendiri. Aku duduk dengan nyonya
Khalida, Johan di depan saya dengan Haidar. Kak Iqna, Kak Pijar dan Nana duduk
di bangku deretan Johan, samping saya ada Chemi, Ipin, dan Ibos. Intinya banyak
yang kita ketawain, mulai dari selimut tetangga sampai baliho depan toko,
apapun yang akhirnya bikin tertawa. Ipin yang bersih dolar, Ibos yang hobi
diajak makan junk food sama om om, sampai tante-tante yang suka nongkrong di
salah satu mall elit di bilangan scbd.
Tapi bagaimanapun,
kesenangan ada habisnya, tawa renyah usai ketika satu-persatu tumbang dalam
tidur di perjalanan menuju Jakarta. Saya yang masih pengangguran tenang –
tenang saja capek pun besok masih bisa bobok. Yang banyakan temen-temen lain
pada kerja. Hampir tengah malam kami sampai di Kampung Rambutan dihiasi hujan
gerimis. Ingatnya sih saya satu angkot sama Ipin, Ibos, Haidar dan Johan. Kak
Pijar, Nana, Kak Iqna dan Khalida ke tangerang. Para lelaki dan saya kecuali
Chemi ke margonda. Saya turun di kober dan melanjutkan perjalanan dengan ojek.
Rekor paling malam dan paling melelahkan. Jam setengah 1 dini hari. Tapi capek
begitu saya masih sempat makan indomi di warkop dekat kosan hahaha...
Hari yang
melelahkan berakhir ketika saya sampai kostan, unpack beberapa barang dari
carrier, mandi, lalu tidur setelah salam kepada penghuni grup. Perjalanan yang
menyenangkan. Yang ujungnya jadi ‘komunitas’ gosip dan main-main bareng. Walau
belum nge trip lagi. Adanya misah-misah. Sekitar Agustus/September kalau gak
salah Ijal jalan sama Ibos ke Sumbing, lalu saya dan Chemi ke Sangiang awal
Desember ini. Makin sulit karena Kak Pijar dan Iqna ke Jepang dan Khalida ke
Lampung untuk jangka waktu yang cukup lama. Huftsss... jadi satu-satunya
perempuan di grup yang masih jadi budak korporat di Jakarta.
Hanya satu doa,
semoga bisa main lagi sama-sama.
Kukusan,
21 Desember 2015
Comments
Post a Comment