Skip to main content

Posts

Catatan Perjalanan - Papandayan (Part II)

Akhirnya setelah ditirakatin puasa Daud, berendem di kali yang airnya mengalir, catatan ini keluar juga. Padahal perjalanannya udah hampir setahun. Catatannya baru keluar sekarang. Huksss... Maafkan saya, yang (sok) sibuk ini. Sudah jadi budak kapitalis, makin susah nyari waktu buat nulis ini itu. Catatan perjalanan Papandayan ini akan mengisahkan cerita lanjutan dari perjalanan ke Gunung Papandayan nan elok bulan Mei lalu. Perjalanan yang awalnya hanya buat nge trip, akhirnya membawa beberapa diantara kami menjalin pertemanan yang cukup akrab. Ada yang berantem mulu di grup, ada yang cinlok à atau dicengin cinlok, ada yang dicengin suami isteri saking hobinya saling ngatain babi, ada yang mau bikin usaha bareng. Macem-macem... Awalnya Cuma ketemu pas nge-trip, jadi bikin acara ketemuan-ketemuan lain, jogging bareng, buka puasa bareng, belanja bareng, nonton bareng. Tidur pun bareng... di rumah masing-masing. Disini akan dikisahkan mengenai jalan-jalan sore di hutan mati,...

Catatan Perjalanan - Papandayan (Part I)

Catatan Perjalanan Papandayan “Benda bisa hilang, Tapi pengalaman tidak akan bisa dicuri”. “Apalagi gebetan, bisa diambil orang, ditikung macomblang, atau lari bersama orang.” #nahloh Berbekal keyakinan bahwa perempuan istri- able itu yang bisa diajak munggah mudhun gunung anjlog samodra 1 . Di awal tahun 2015, saya mengumpulkan tekad baja untuk mewujudkan niatan camping di gunung yang termanifestasikan dalam resolusi nomor 5 tahun ini.Setelah berkali-kali berakhir dengan wacana, mulai dari alas an ikut ujian aikido, ketua rombongan ikut interview di perusahaan, hingga alas an klasik minimnya budget ‘kenakalan perempuan’. akhirnya Papandayan menjadi destinasi pendakian perdana bagi saya. Meskipun lebih tepat jika perjalanan kali ini saya sebut camping cantik. Karena nyatanya track Papandayan memang tergolong paling mudah diantara gunung-gunung yang lain.  Naik gunung, beres! Lalu bagaimana dengan ‘anjlog samodra’?. Keberuntungan menaungi konstelasi Virgo ber...

Catatan Perjalanan - Pura Parahyangan Bogor

Catatan perjalanan pertama di blog ini, #PotongTumpeng. Seperti judulnya, catatan perjalanan ini mengambil latar Pura Parahyangan di kaki Gunung Salak, Bogor. Keindahan yang ditampilkan dari sejumlah foto beberapa orang yang telah mengunjungi tempat itu sebelumnya, meluapkan keinginan untuk melihat rupa Pura di daerah Bogor yang dalam foto nampak seperti di Bali.  Bos perjalanan kali ini adalah Ayank, dia pula yang memberitahu saja beberpa bulan yang lalu ada tempat di Bogor, sebuah pura yang nuansanya seperti di Bali. Acara trip ke Pura Parahyangan ini bisa dibilang agenda mendadak. Saya memutuskan join hari Jum’at sewaktu bermusik dengan Ayank di pinggir danau samping Balairung. Romantis banget gak sih?, Hanya selang sehari dan kami pergi di hari Minggu. Untuk kegiatan short trip ada baiknya tidak direncanakan terlalu lama nampaknya, karena biasanya ujungnya wacana dan gak jadi kemana-mana. 

Payung Hujan

Aku laki-laki . Dering telepon lima belas menit yang lalu memaksaku hingga ke tempat  ini, meninggalkan kasur yang hangat dan Inferno . Disaat hujan deras di luar sana membuat gravitasi di dalam kamarku lebih besar dari yang sewajarnya, klien yang menggunakan jasaku meminta bertemu untuk diskusi revisi website yang selesai kudesain beberapa waktu lalu. Dia menginginkanku menemuinya di salah satu tempat ‘ngopi’ elit yang satu cangkir kopinya minimal seharga lima kali makan di warteg dengan minuman es teh manis. Tempat dimana ketika kau menyeruput kopi mahalmu, orang-orang di luar bisa melihatmu dari balik kaca. Dan sampai sekarang, aku masih tidak paham dimana letak nilai seni mempertunjukan adegan minum kopi. Kecuali kalau kopinya masih bubuk tanpa diseduh dengan air.